SKRIPSI DAKWAH MELALUI DRAMATARI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dakwah masih dipahami secara sempit, hanya berkutat pada ceramah dan khutbah yang cenderung hanya mengedepankan retorika belaka. Kondisi ini mengakibatkan dakwah kurang mendapatkan apresiasi, baik dalam tataran praktis di lapangan maupun kajian teoritis di dunia akademik. Situasi ini merupakan cermin wajah dakwah yang belum berpijak diatas realitas sosial yang ada. Padahal dakwah dan realitas sosial memiliki hubungan interdependensi yang kuat.
Aktivitas dakwah sebagai proses komunikasi penyampaian ajaran ideal Islam, selama ini dirasa belum mempunyai kepoweran untuk membawa masyarakat kepada perubahan yang lebih baik. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena dakwah selama ini dilakukan cenderung kering, impersonal, dan hanya bersifat informatif belaka.
Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang dai (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.[1]
Sedangkan media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan, media dakwah ini dapat berupa barang atau alat, orang, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya.
Dramatari ialah gabungan antara seni drama dan seni tari. Drama atau cerita yang di sajikan dalam bantuk tarian, biasanya diiringi oleh musik (gamelan) dan kolosal berarti yang dibuat secara besar besaran.[2]
Kata drama yang berasal dari kata yunani kuno, draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan drame yang berasal dari kata prancis yang diambil oleh diderot dan beaummarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu peristiwa penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap sejak era mesir kuno (4000-1580 SM), sebelum era yunani kuno (800-277 SM).[3]
Seni tari adalah media ungkap, tari adalah gerak. Gerak tari merupakan gerak yang diperhalus dan diberi unsur estetis. Gerak dalam tari berfungsi  sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud-maksud tertentu dari koreografer. Keindahan tari terletak pada bentuk kepuasan, kebahagiaan, baik dari koreografer, peraga dan penikmat atau penonton.[4]
Sebagai sarana komunikasi. Tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai acara tari dapat berperanfungsi menurut kepentinganya. Masyarakat membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan estetis, melainkan dibutuhkan juga sebagai sarana upacara yang berhubungan dengan agama dan adat, maupun keperluan tertentu lainnya.[5]

Puteri Ong Tien Nio (Nyi Ratu Rara Semanding) merupakan Puteri Kaisar Ong The atau Kaisar Hong Gie[6] dari Dinasti Ming adalah seorang muslimat Tionghoa, Istri Sunan Gunung Jati.[7]
Dramatari Kolosal Puteri Oeng Tien Nio, menceritakan perjalanan Syekh Syarif Hidayatullah yang terkenal sebagai ulama yang arif dan pengobatanya,  memenuhi panggilan Raja Ong The ke Negeri Cina dan perjalanan Puteri Ong Tien Nio ke Cirebon, menjadi mu’alaf, pernikahan dengan Syekh Syarif Hidayatullah dan kematian anaknya hingga mengangkat anak (Arya Kemuning) sampai wafatnya dan dimakamkan di Astana Gunung Jati.
Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan merupakan sanggar yang berada di wilayah komplek Keraton Kacirebonan yang bergerak dalam bidang tari tradisional khususnya, serta seni lukis, masres, seni rupa, wayang wong dan lainya.
Dramatari telah dianggap mempunyai andil besar dan memiliki nilai strategis dalam misi dakwah khususnya lewat kesenian dimasyarakat Indonesia khususnya Cirebon.
Untuk itu dalam penelitian ini penulis ingin mengupas dakwah melalui  pentas Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio sebagai upaya mengkaji lebih lebih dalam tentang keberadaan dramatari sebagai media dakwah. Lebih jelasnya penulis menuangkan dalam judul penelitian sebagai berikut : DAKWAH MELALUI DRAMATARI“ (Study Kasus Pentas Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan)
B.     RumusanMasalah
1.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis membatasi rumusan masalah sebagai berikut :
a.              Bagaimana peranan dramatari sebagai media hiburan?
b.             Bagaimana dakwah melalui dramatari?
c.              Apa pesan-pesan dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan?
2.      Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berpijak dari permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
a.              Untuk mengetahui peranan dramatari sebagai media hiburan
b.             Untuk mengetahui cara dakwah melalui dramatari
c.              Untuk mengetahui pesan-pesan dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan
Dalam hal ini, kegunaan penelitian yang dilakukan dibagi kepada dua bagian yaitu : Kegunaan secara akademis dan secara praktis. Secara akademis penelitian ini berguna sebagai acuan referensi dan pijakan untuk penelitan selanjutnya. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan.



C.    Kerangka Pemikiran
Kesenian dalam bentuk kegiatan merupakan budi daya manusia. Kesenian merupakan perwujudan gagasan-gagasan tradisional yang diperoleh secara historis. Kesenian hubungannya dengan nilai-nilai merupakan bentuk simbolisasi, mencipta  karya.
Kesenian yang telah mapan telah mempola membentuk identitas, dalam perkembangannya disosialisasikan menjadi hasil budaya nenek moyang atau leluhur yang siap diwariskan. Nilai budaya nenek moyang telah mencapai pemahaman yang tinggi. Falsafah yang terkandung bermakna dan memiliki bobot. Hal ini dapat tersirat di dalamnya dengan mengajarkan berbagai makna dalam isi yang berbudi luhur. Makna simbolis budaya nenek moyang yang telah diwariskan secara implicit sebagai pernyataan budaya.
Menurut Ki Hajar Dewantoro : Kesenian sebagai produk merupakan hasil dari segala potensi manusia menyangkut cipta, rasa, dan karsa. Kesenian memiliki unsur keluhuran (nilai etis), unsur keindahan (estetik), dan hasil dari emosi (rasa) serta rasio (akal) manusia. memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan hiburan, pendidikan dan moral.[8]
Sebagai sarana dakwah masyarakat, dramatari memiliki nilai strategis yang memberikan hiburan. Dramatari bukan saja hiburan semata, akan tetapi dramatari pun dapat memberikan efek yang baik melalui meningkatkan  moral dan pemahaman agama pada masyarakat. dalam Islam upaya tersebut disebut dakwah.
Berdakwah adalah tugas kita semua, karena kepentingan dakwah itu adalah untuk berkewajiban menyeru mengimani Allah dan beribadah menurut ketentuan yang disyariatkan-Nya. Ini berarti Allah telah memuliakan umat Islam dengan memberikan kedudukan terhormat dan kemuliaan tersebut dijelaskan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 110:
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”.[9]
D.    Langkah-langkah Penelitian
1.             Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dilakukan penulis adalah di Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan . Pada lokasi ini penulis mendapatkan data-data primer mengenai Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan.


2.             Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis semiotika, yaitu : penelitian yang ditujukan untuk menganalisa tanda dan yang berhubungan denganya : cara berfungsinya, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirimnya dan penerimanya oleh mereka yang mempergunakan.
3.             Sumber Data
Secara umum data itu terbagi kepada dua jenis yaitu : Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer yaitu data pokok dalam penelitian yakni data yang didapat dari lokasi penelitian. Sedangkan data skunder yaitu data pendukung dalam penelitian yang didapat dari selain Data Primer tersebut.
4.             Teknik Pengumpulan Data
a.    Observasi, adalah salah satu tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melalukan pengamatan terhadap obyek penelitian (to observ = melihat dengan teliti, mencermati dengan hati hati, mengintip atau mengamati) untuk mendapatkan data tentang dakwah melalui Dramatari (Study Kasus Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan)
b.    Wawancara, pada pelaksanaan penelitian ini penulis melakukan tanya jawab dengan narasumber antara lain E. Heri Komarahadi Sutradara / Pimpinan Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan, Dyah Laskmawati sebagai ide cerita.
c.    Studi Kepustakaan, yakni untuk membantu buku-buku yang bersifat teoritis, guna menunjang dan memperkuat hasil penelitian.
5.             Analisis Data
Analisis data menggunakan teori Roland Barthes. Di sini tanda dimaknai secara denotasi dan konotasi tanpa mengesampingkan mitos yang ada untuk memperoleh gambaran atau pengertian yang bersifat menyeluruh dan mencakup permasalhan yang diteliti. Ketika suatu tanda memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut menjadi mitos.
Dalam proses penelitian, tahap pertama yang dilakukan adalah pemilihan tanda yang dilakukan setelah peneliti mengamati secara keseluruhan adegan dramatari kolosal tersebut. Peneliti akan mereduksi Dramatari Kolasal Puteri Ong Tien menjadi miteme-miteme (Sign) yang membentuknya. Proses pereduksian teks dramatari menjadi miteme didasarkan pada tanda-tanda dominan yang mampu mepresentasikan makna pesan dakwah dalam dramatari tersebut.
Tahap kedua, yaitu tahap analisi tanda. Tahap ini difokuskan pada usaha mengindentifikasi sistem penanda tingkat pertama dan tingkat kedua, serta mengidentifikasikan koreografi dan narasi apa saja yang digunakan dalam dramatari tersebut
Langkah selanjutnya, peneliti berusaha menentukan makna denotasi dan konotasi Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio tersebut. dalam tahap menentukan konotasi dan denotasi, yang peneliti terlebih dahulu lakukan adalah tanda tanda apa saja yang diidentifikasikan sebagai sebuah nilai yang mengandung makna nilai-nilai dakwah yang terdapat pada Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio.
Satu persatu tahap tersebut dijabarkan dalam tahap denotasi, dalam tahap denotasi ini, peneliti menjelaskan apa saja yang menjadi penanda, petanda dan tanda dalam setiap tanda dramatari kolosal mempresentasikan makna nilai-nilai dakwah. Penjelasanya dijabarkan dalam tabel visual berupa cut dari adegan, transkip narasi dan koreografi.
Setelah tahap penentuan pemaknaan sistem tingkat pertama (denotasi) peneliti melakukan analisis tanda. Disini peneliti memfokuskan pada koreografi, yaitu koreografi yang menjelaskan situasi, kondisi, ekpresi para tokoh dan lingkungan sekitar.
Masuk pada tahap penentuan konotasi peneliti melakukan pengamatan pada bentuk, konsep dan penandaan. Langkah selanjutnya adalah identifikasi mitos nilai-nilai dakwah. Bagi Barthes, mitos merupakan memahami sesuatu kebudayaan tentang sesuatu. Menurut barthes, mitos adalah kisah (a history) yang melaluinya sebuah budaya menjelaskan dan memahami beberapa aspek dari realitas. Mitos membantu kita untuk memaknai pengalaman-pengalaman kita dalam suatu konteks budaya tertentu. Berdasarkan analisis kedua tanda dominan tersebut ditemukan makna konotatif sebagai wujud dari sebuah mitos.



[1] Munzier Suparta, Harjani, Metode Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2008),  h, 7.
[2] Setiawan, Ebta, KBBI Vol. 3,1
[3] Eka Santoso, dkk, Seni Teater Jilid I,(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h, 1.
[4] Rahmida Setiawati, Seni Tari Jilid I, ,(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h, 20.
[5] Ibid, h, 12.
[6] Kasar Hong Gie adalah pengganti Kaisar Yu Long dari Dinasti Ming
[7] Amen Budiman. Masyarakat Tionghoa di Indonesia,(Jakart:Tanjung Sari, 1979), h, 57.
[8] Santoso, dkk, Seni Teater Jilid I,(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h, 1.
[9] Al Qur’an dan Terjemah Departemen Agama,( Semarang: CV. Asy-Syfa, 2001),  h, 135.

Komentar