BAB IV
ANALISIS SEMIOTIKA
DRAMATARI KOLOSAL
PUTERI ONG TIEN NIO
SANGGAR SENI SEKAR
PANDAN KERATON KACIREBONAN.
A.
Analisis
Dramatari sebagai Media Hiburan
Sebagai suatu kegiatan, seni
tari memiliki beberapa fungsi, yaitu seni tari sebagai sarana upacara, seni
tari sebagai hiburan, seni tari sebagai media pergaulan, seni tari sebagai
penyaluran terapi, seni tari sebagai media pendidikan, seni tari sebagai
pertunjukan, dan seni tari sebagai media katarsis.
Dramatari sebagai seni hiburan
tidak lepas dari cerita/ lakon dan tangan sutradara dalam bentuk penyajianya.
Dramatari pada intinya adalah mengkemas cerita/ lakon yang akan di sampaikan
pada penonton melalui gerak tari, sebagai media hiburan, dramatari diharapkan
mampu memberikan kepuasan kepada penonton atas pertunjukan yang di tampilkan.
Dramatari sebagai media hiburan
yang bermutu tinggi, artinya banyak sekali hiburan-hiburan yang kurang mendidik
pada era globalisasi ini. Dramatari juga bisa berfungsi sebagai alternatif
wisata keluarga dan kerabat dalam memilih liburan sekolah atau kuliah.
Dalam perjalanan waktu,
pertunjukan kesenian dibagi menjadi dua kateori: bentuk hiburan dan sebagai
bentuk karya seni,kedua bentuk tersebut terkadang saling tumpang tindih, satu
saat salah satu diantaranya menjadi bentuk hiburan dan satunya menjadi bentuk
karya seni.
Memahami dramatari sebagai
media hiburan, disadari atau tidak, hiburan mendominasi sikap, penilaian, dan
minat masyarakat keseharian, sehingga sangat mudah bentuk pertunjukan semacam
ini disamakan dengan permaian undian, olahraga, dan hiburan yang lainya.
Sutradara sangat dominan dalam
memilih dan mengkonsep secara keseluruhan pertunjukan. Sutradara juga
bertanggungjawab secara moral atas karyanya dihadapan penonton.
Sementara banyak unsur-unsur
dalam dramatari yang dapat sebagai bentuk hiburan, maka berpotensi pula
dramatari sebagai karya seni.
Adegan
|
Deskripsi
|
Musik
|
Tokoh
|
Tari Topeng Klana 5 gaya
: Losari, Slangit, Palimanan, Gegesik dan Indramayu
|
Gonjing
|
50 Penari Topeng
|
|
“Raja Cina peputra puteri
luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif
Hidayatullah alir kadang sudarma”
|
Tari Lampion
|
20 Penari Lampion
|
|
Tari sudu
|
Rangsang
|
||
Bodoran
|
-
|
Bodor
|
|
Membentuk perahu
|
Suling
|
Tandu, Umbul-Umbul,
Liong. Tari Lampion
|
|
Pencak silat
|
Terompet, Gendang pencak
|
Pencak Silat
|
|
Tari batik
|
Gunung sari
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tin, 10 Penari Batik
|
Pada gambar atas beberapa
adegan dalam dramatari kolosal puteri ong tien yang mempunyai nilai hiburan dan
juga mempunyai nilai tersembunyi secara simbolik yang berkaitan dengan isi tari
tersebut dan alur cerita dramatari Puteri Ong Tien Nio sendiri.
Tari topeng mempunyai nilai
hiburan yang mengandung pesan tersembunyi, karena unsur-unsur didalamnya
mempunyai arti simbolik yang sangat menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Tari topeng kelana atau rahwana
menggambarkan sifat angkara murka yang terdapat dalam jiwa manusia. Dikaitkan
dengan ajaran Islam, Kelana artinya kembaran atau mencari, bahwa hidup ini kita wajib berikhtiar.[1]
Tari Lampion menggambarkan
suasana sedih, gemerlap lilin menyala adalah symbol kesendirian, kesedihan,
kensunyian, dan sebagainya. Tari Sudu adalah tari nelayan yang sedang menangkap
ikan, menggambarkan proses pekerjaan kehidupan nelayan Cirebon, adapun lilin yang
berada diatas kepala adalah menandakan nelayan bekerja pada malam hari.
Bodoran adalah sejenis lawakan
khas Cirebon, bodoran berarti bercanda, lawak, menghibur, dan lain sebagainya.
Mengambarkan kepanikan para penduduk Cirebon terhadap rombongan Cina yang
datang di pelabuhan dengan humor. Liong adalah kesenian khas china.
Mengambarkan tentang selerasan kebudayaan cina dan Cirebon. Pencak silat adalah
ilmu beladiri, pada gambar di atas merupakan gambaran ilmu beladiri masyarakat
Cirebon yaitu pencak silat Cirebon.
Tari Batik adalah tari
penggambaran proses pembuatan batik dari mulai memilih bahan, mambatik,
menyuci, dan menjemur. Penggambaran tentang kebudayaan sandang pada masa itu.
Beberapa mortif batik Cirebon adalah motif mega mendung, motif koda udang, motif
supit urang (urang ayu), motif jangkar puteri cina, motif piring sepalad,
motif kapal minggir, dan motif kapal kandas.
B.
Analisis
Dakwah melalui Dramatari
Berbicara tentang seni dan budaya yang berkembang di
Cirebon, Hal Ini tidak lepas dari kehadiran Sunan Kali Jaga yang mempunyai arti
sangat penting, disamping iya dipercaya sebagai tokoh pertama dan utama yang
menciptakan dan menghidupkan kesenian di Cirebon khususnya, Sunan Kali Jaga lah
yang menggunakan kesenian sebagai media
dakwah dalam mensyiarkan agama Islam.[2]
Keberadaan kerajaan Islam Pakungwati (Kesepuhan) yang
besar dan berpengaruh dan seni budaya dilingkungan keraton, manandakan
keselarasan bahkan menjadi pusat
keberadaan seni-seni tradisional saat itu.[3]
Pada pengkajian semiotika
estetis dapat kita temukan adanya korelasi tanda-tanda estetis dengan
masalah-masalah kesenian. Korespodensi antara penanda dan petanda perlu
mendapatkan pertimbangan secara estetis. Sifat dari tanda-tanda dalam karya
seni adalah kreatif dan dinamis sehingga harus ditemukan kembali penafsir.
Kaidah penandaan dalam seni tidak pernah tetap, melainkan berubah-ubah. Tanda
yang diciptakan seniman dalam karya seninya secara umum bersifat individual,
khusus, subjektif, dan berciri khas diikuti oleh makna-makna sertaan.[4]
Amanat dalam karya seni
merupakan dasar wawasan budaya pengarang. Dasar wawasan budaya inilah sebuah
pewartaan (informasi) dalam amanat yang di sampaikan, yaitu mengajarkan sesuatu
hal sambil meberi hiburan.
Dramatari tidak lepas dari karya sastra/ naskah, amanat
atau pesan merupakan dalam mengkaji karya sastra, setiap bentuk karya sudah
tentu memiliki pesan atau amanat yang ingin disampaikan kepada penonton, dan
dalam amanat terkandung hikmah dan tata nilai yang luhur dan penuh dinamika
yang hendak disampaikan pengarang kepada apresiator. Sutradara sebagai orang
yang paling bertanggungjawab dalam karya seninya, barang tentu harus cermat
dalam memilih naskah dan interpretasi cerita dalam sebuah pertunjukan.
Dalam rangka memahami naskah, sutradara melakukan berbagai
langkah pendekatan untuk pemanggungan naskah. Terdapat beberapa cara pendekatan[5]:
- Sutradara adalah penafsir naskah langsung ke atas panggung; menterjemahkan secara lengkap, halaman demi halaman staging yang ditulis oleh pengarang.
- Pandangan sutradara yang tujuannya untuk menangkap spirit naskah, meskipun akan jauh berbeda dari pengarangnya.
- Merupakan cara kerja yang tidak terpusat apada naskah tetapi menjadi acuan. Sutradara bebas membentuk kembali naskah jika dipandang akan menghasilkan naskah yang labih bernas.
- Penyutradaraan ini benar-benar menghilangkan peran seorang penulis.
Di samping pendekatan-pendekatan tersebut, sutradara
harus melakukan kerjasama untuk merubah obsesinya ke dalam realita. Melalui
kerjasama tim art (aktor, naskah, serta artistik) agar tercapai perancangan
yang tepat. Di bawah ini adalah bagan perancangan sebagai berikut:
- Klasifikasi panggung sebagai alat kontol menyeluruh.
·
Jenis
Naskah
·
Hubungan
Pementasan dan penonton
·
Konvensi
·
Gaya
- Analisis panggung sebagai membangun struktur dan tekstur panggung
·
Struktur:
Plot. Penokohan, Tema
·
Tekstur:
Dialog, Suasana, Spektekel
- Pemilihan materi dan teknik pemanggungan
·
Sutradara
Ø
Pilihan
Materi: akting, ruang, waktu, garis, warna, cahaya
Ø
Pilihan
Teknik: komposisi, gambar atau sketsa, movement, dramatisasi pantomimik,
irama
·
Bagi Pemain
Ø
Pilihan
Materi: tubuh, pikiran, perasaan
Ø
Pilihan
Teknik: membaca dialog, movement, dramatisasi pantomimik,
irama, gestur.
·
Bagi Perancang Artistik
Ø
Pilihan
Materi: ruang, garis, bentuk, gerakan,
Ø
Pilihan
Teknik: berawal dari realisme, bergerak ke arah akting, mendalami suasana dan
atmosfer, skeneri atau pencetus
gagasan. [6]
C.
Analisis
Nilai- Nilai Dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni
Sekar Pandan Keraton Kacirebonan
Dramatari adalah suatu bentuk kesenian alternatif kolaborasi antara seni
drama dan seni tari, dramatari bisa memiliki banyak arti tergantung siapa yang
melihat dan menikmatinya. Dramatari adalah kesenian yang sarat akan
simbol-simbol yang bermakana, simbol berfungsi sebagai memimpin pemahaman
subyek pada obyek
Dapat dikatakan dalam sebuah garapan mempunyai makna-makna tertentu yang
akan ditawarkan kepada penonton, perwujudan makna-makna tersebut biasa berisi
tentang, sosial, ekonomi, religi sejarah ataul hal-hal yang menjadi pusat
perhatian penulis naskah, sutradara, dan produser.
Penulis mencoba menginterpretasi terhadap dramatari kolosal Puteri Ong
Tien Nio, dibawah ini merupakan upaya penulis untuk menganalisa adegan adegan
yang menggambarkan nilai-nilai dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien
Nio, dengan menggunakan analisi semiotik karya Roland Barthes.
1.
Makna Konotasi,
Denotasi, dan Mitos
Dramatari
Kolosal Puteri Ong Tien Nio adalah dramatari dengan latar belakang biografi Puteri
Ong Tien Nio berjumpa dengan Syekh Syarif Hidayatullah di Negeri Tar Tar
kemudian memeluk Islam serta menikah dengan Syekh Syarif Hidayatullah sampai
wafatnya. Menceritakan tentang nilai-nilai dakwah seperti dakwah dengan
pengobatan, kekuasaan, pernikahan. Puteri Ong Tien Nio sebagai tokoh taladan.
Penulis akan berusaha menguraikan makna konotasi, denotasi dan mitos dalam Dramatari
Kolsal Puteri Ong Tien Nio.
Dakwah
dalam analisis semiotik akan menjadi pananda (signifier) dakwah
merupakan aspek materialnya sedang apa yang ditunjukanya atau petandanya adalah
dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio, penulis ingin memulainya dengan cara
demikian, sedemikian rupa sehingga mampu menguraikan apa yang tersirat dan
tersurat dalam teks dan video Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio.[7]
Adegan
|
Deskripsi
|
Musik
|
Tokoh
|
Tari Topeng Klana 5 gaya
: Losari, Slangit, Palimanan, Gegesik dan Indramayu
|
Gonjing
|
50 Penari Topeng
|
|
Kertawara
|
Gong beri, Suling
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
Rakyat Masuk mendengar
dakwah Syekh Syarif Hidayatullah
|
Hentakan (pelog),
Shalawat, Syahadat
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Rakyat Cina
|
|
“Kibaran panji-panji
kebesaran menjilati angkasa bagaikan sang naga bertahta di Negeri Tar Tar
yang dipimpin oleh Raja Ong The”
|
Jinem (Salendro)
|
20 Penari Bendera
|
|
Prajurit Cina membacakan
Tihta Raja
|
Bende
|
1 Prajurit
|
|
Raja tiba di istana,
berdialog dengan Sampo Talang,
Syekh Syarif
Hidayatullah muncul menghadapi raja, Sampo Talang menghadap raja
|
Music cina
Wayang klitik
Wayang klitik
|
Raja Ong The, Bendera
Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Biksu, Syekh Syarif Hidayatullah, Sampo
Talang, Parjurit
|
|
Sang raja memanggil Puteri
Ong Tien Nio yang beparas cantik nan anggun
|
Trektek, hentakan
kempreng
|
Puteri Ong Tien Nio,
Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan
Hin, Sampo Talang, Dayang
|
|
“Sang raja mengajukan
pertanyaan kepada Syekh Syarif Hidayatullah, perihal kondisi isi perut
putrinya, syarif hidayatullah menjawab pertanyaan sang raja bahwa Puteri Ong
Tien Nio saat ini tengah hamil”
|
Suling marah, hentakan I
(Salendro)
|
Puteri Ong Tien Nio,
Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan
Hin, Sampo Talang, Dayang
|
|
“Diluar nalar manusia
ternyata bokor yang berada dibalik busana menghilang, perut Puteri Ong Tien
Nio membesar layaknya orang hamil”
|
Suling bingung, hentakan
2
(salendro)
|
Puteri Ong Tien Nio,
Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan
Hin, Sampo Talang, Dayang
|
|
“Raja tertegun, diam
terpaku tak dapat berkata sepatah kata pun”
|
Suling gelisah
Hentakan 3
(salendro)
|
Puteri Ong Tien Nio,
Raja Ong The, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang,
Umbul-Umbul
|
|
“Karsanira Syekh Syarif
Hidayatullah angungsi angawula ing Negara Cina, ing Raja Cina anggeger barang
pangopatanipun linempahaken dening Syarif ”
|
Suling
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Raja Cina peputra puteri
luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif
Hidayatullah alir kadang sudarma”
|
Tari Lampion
|
20 Penari Lampion
|
|
“Mankala hijaunya
teratai menghiasi karena netra warnanya sejuk meneduh dinding sukma yang
lara”
“Ketika runcingya busur
cinta menusuk urat nadi bisanya mengalir” “melumpuhkan jati diri disaat
tajamnya panah asmara menikam raga racun meresap membunuh jiwa “
“Sepeninggal Syekh
Syarif Hidayatullah dari Negeri Cina, perasaan Puteri Ong Tien Nio Niogundah
gulana, selalu teringat dan terbayang sosok Syekh Syarif Hidayatullah
sehingga sakit”
|
Ketuk
|
Puteri Ong Tien Nio,
Dayang
|
|
“Raja menugaskan Perdana Menteri Sampo Talang,
Panglima Perang Lie Gwan Chun, dan Nahkoda Lie Gwan Hin beserta pasukan untuk
mendampingin Puteri Ong Tien Nio berlayar”
|
-
|
-
|
|
“Ing wanci tan ora kebagian during mati seukmae
melayang-layang”
“Kresna dening Syakh Syarif saking pulau jawa ora
bias den ;lupuri ora bisa di tinggal kali badan lara sewu dadi sawiji”
|
Cirebonan
|
Puteri Ong Tien Nio,
Raja Ong The
|
|
Membentuk perahu
|
Suling
|
Tandu, Umbul-Umbul,
Liong. Tari Lampion
|
|
Tari sudu
|
Rangsang
|
||
“berdiri dihempas
gelombang badai samudera kokoh dan tangguh diterjang desingan angin utara
berjalan dibakar panasnya terik…”
|
Mentak
|
Penari Sudu,
Adipati Keeling
|
|
Bodoran
|
Bodor
|
||
Puteri Ong Tien Nio tiba
di Tanah Jawa bertemu dengan pasukan Adipati Keling sementara Syekh Syarif
Hidayatullah dan Pangeran Cakrabuana berada didaerah Lurahgung
|
Sandal paulan,
perpindahan musik kecrek pajang, sekar keputren
|
Panglima Perang Lie Gwan
Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keeling, Rombongan
|
|
Perang Liong
“Adipati Keling saling
adu kekuatan dengan pasukan Cina, karena rombongan Cina tidak memakai etika
berkunjung, namun akhirnya berhenti dan mengawal rombongan Cina ke Luragung”
|
Panglima Perang Lie Gwan
Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keeling, Rombongan
|
||
Tari Ki Gede Kemuning
“Ditatar priangan timur
tersebutlah satu pedukuhan bernama luragung pada saat itu dipimpin oleh Ki
Gede Kemuning seorang tokoh yang tangguh berilmu adiluhung sehingga pada saat
Syekh Syarif Hidayatullah bersama Pangeran Cakrabuana bertandang untuk syiar
agama Islam di daerah itu, dengan lantang dan menantang, Ki Gede Kemuning
menolak pada kekuasaan Cirebon”
|
Wayang perang
Batangan
|
Ki Gede Kemuning
|
|
Pencak silat
|
Terompet, Gendang pencak
|
Pencak Silat
|
|
“Maka terjadilah adu
kesaktian antara Ki Gede Kemuning dan Pangeran Cakrabuana”
|
Wayang perang, Gawa (salendro) berry berhenti di 2
|
Ki Gede Kemuning,
Pengeran Cakrabuana
|
|
Pangeran Cakrabuana
mengeluarkan pusaka Batok Bulu untuk mengeluarkan Laskar wirog
|
Gemuruh
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Pangeran Cakrabuana,
|
|
Laskar Wirog
|
Gemuruh
|
Laskar Wirog
|
|
“Akhirnya Ki Gede Kemuning
mengakui kedigjayaan Pangeran Cakrabuana, Pangeran mengeluarkan Golok Cabang
untuk menghilangkan Laskar Wirog”
|
Hentakan gong berry 3x,
sholawatan lambat
|
Obor Golok Cabang, Ki
Gede Kemuning, Pangeran Cakrabuana, Laskar Wirog
|
|
“Puteri Ong Tien Nio dengan
dikawal pasukan Adipati Keling tiba didaerah Luragung, Syekh Syarif
Hidayatullah menyambut kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut, kemudian
disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian
rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan
mengucap dua kalimat syahadat”
|
Pyang pyang pyang,
syahadat
|
Panglima Perang Lie Gwan
Chun, Nakhoada Lie Gwan Hin, Panngeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio,
Pasukan Cina, Ki Gede Kemuning, Pasukan Ki Gede Kemuning
|
|
Tari genjring
(rudat)
“Pada tahun 1481 M, di
luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio
|
Ilustrasi bonang,
Shalawat
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
|
|
“Seiring berjalanya
waktu Puteri Ong Tien Nio mengandung”
|
Musik lahiran
(ilustrasi suling)
|
Syekh Syarif
Hidayatullah beserta Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Puteri Ong Tien Nio
melahirkan Pangeran Kuningan sayang disayangkan Pangeran kuningan tidak
berumur panjang”
|
Gemuruh,
|
Syekh Syarif dan Puteri Ong
Tien Nio
|
|
“Puteri Ong Tien Nio dilanda
kesedihan yang mendalam”
|
Gong berry (ilustrasi
suling)
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Mengtahui istrinya
larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka Syekh Syarif Hidayatullah
memohon kepada Ki Gede Kemuning untuk mengangkat Pangeran Arya Kemuning
sebagai putranya”
|
-
|
-
|
|
Tari bokor
“Sebagai tanda terima
kasih Puteri Ong Tien Nio Nio memberikan tanda mata sebuah bokor kuningan ke
pada Ki Gede Kemuning”
|
Mogang goncang,
|
Puteri Ong Tien Nio, Ki
Gede Kemuing Beserta Istri, 10 Penari Bokor
|
|
Tari batik
|
Gunung sari
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tin, 10 Penari Batik
|
|
“Kisah perjalanan
bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah”
“Hidayatullah tidak
berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien Nio jatuh
sakit hingga merengut nyawanya”.
|
Hentakan 5, Tahlil
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi
|
2.
Nilai-Nilai Dakwah dalam Dramtari
Puteri Ong Tien Nio
Dalam Dramatari Kolosal Puteri
Ong Tien Nio memperlihatkan proses penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh
Syekh Syarif Hidayatullah melalui beberapa metode yang tepat dalam setiap situasi
dan kondisi yang terjadi. Ketika di Negeri Tar Tar yang jauh dari Cirebon
melalui ilmu pengobatan melakukan syiar agama Islam, di Luragung menggunakan
kekuasaan, Puteri Ong Tien Nio dengan perkawinan dan beberapa musik mengandung
shalawat-shalawat dan syahadat.
Adegan
|
Deskripsi
|
Musik
|
Tokoh
|
Rakyat Masuk mendengar
dakwah Syekh Syarif Hidayatullah
|
Hentakan (pelog), Shalawat, Syahadat
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Rakyat Cina
|
|
“Asalamualaikum”
|
Gemuruh
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Kaisar Ong The
|
|
Syekh Syarif
Hidayatullah memohon pamit untuk pulang ke tanah jawa “Asalamualaikum”
|
Ilustrasi suling
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Kaisar Ong The
|
|
“Maka terjadilah adu
kesaktian antara Ki Gede Kemuning dan Pangeran Cakrabuana”
|
Wayang perang, Gawa
(salendro) berry (berhenti di 2)
|
Ki Gede Kemuning,
pengeran cakrabuana
|
|
Puteri Ong Tien Nio dengan
dikawal pasukan Adipati Keling tiba di daerah Luragung, Syekh Syarif
Hidayatullah menyambut “kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut, kemudian
disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian
rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan
mengucap dua kalimat syahadat”
|
Pyang pyang pyang,
syahadat
|
Panglima perang lie gwan
chun, nakhoada lie gwan hin, panngeran cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio,
pasukan cina, Ki Gede Kemuning, pasukan Ki Gede Kemuning
|
|
Tari Genjring
(Rudat)
“Pada tahun 1481 M, di
luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio”
|
Ilustrasi bonang,
Shalawat
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
|
|
“Kisah perjalanan
bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah
tidak berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien
Nio jatuh sakit hingga merengut nyawanya”.
|
Hentakan 5, tahlil
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi
|
|
Denotasi
|
Gambar Syekh Syarif
Hidayatullah beserta Penari Lampion menggambarkan perjalanan dakwah Syekh
Syarif Hidayatullah di Negeri Tar Tar dengan narasi kalimat syahadat sebagai
tandanya.
Syekh Syarif
Hidayatullah sebagai undangan kerajaan mengucap salam terhadap Kaisar Ong
The dan pada akhir permohonan pamit
juga.
Gambar diatas juga
menggambarkan dakwah Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah kepada Ki Gede
Kemuning malalui kekuasaan di Luragung, serta Puteri Ong Tien Nio membacakan
kalimat syahadat bersama sebagian rombongan menandakan dakwah Islam tidak
memaksa, sekaligus menikahi Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke 3 Syekh
Syarif Hidayatullah.
Dalam dramatari kolosal
juga terdapat musik tentang shalawat-shalawat, tahlil sebagai ilustrasi.
|
||
Konotasi
|
Dalam proses dakwah
Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah merupakan contoh da’i yang taladan
terdapat metode-metode dakwah seperti pengobatan, sikap yang santun,
kekuasaan, dan perkawinan.
|
||
Mitos
|
Karena adanya berbagai
macam situasi kondisi yang berbeda dalam proses penyampaian dakwah dilihat
dari mad’u seorang dai harus pintar dalam memilih metode yang tepat agar
dakwanya efektif.
|
||
Pada dasarnya dakwah adalah
mengajak ke jalan kebenaran, dalam prosesnya mempunyai tantangan-tantangan
berbeda-beda sesuai dengan lingkungan,
dalam hal ini dikisahkan Syekh Syarif Hidayatullah berdakwah di Negeri
Tar Tar dengan menggunakan metode
pengobatan, karena memang di Cina terkenal dengan ilmu kedokteran, maka Syekh
Syarif Hidayatullah Hidayatullah dengan pengobatan dzikir dan shalawat sebagai
alternatif.
Syekh Syarif Hidayatullah sebagai
tamu undangan kerajaan mengucapkan salam kepada Kaisar Ong The yang telah memanggilnya dan mengakhiri
pertemuaan dengan salam pula, dalam konteks inilah, Rasulullah dikenal sebagai
uswatun Hasanah, yaitu sosok yang menjadi pola dalam membentuk perilaku umat
manusia.[8]
Sikap Syekh Syarif Hidayatullah
sebagai tamu undangan kerajaan, seperti dalam firman allah Surat An Nur ayat 27:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä w (#qè=äzôs? $·?qãç/ uöxî öNà6Ï?qãç/ 4_®Lym (#qÝ¡ÎSù'tGó¡n@ (#qßJÏk=|¡è@ur #n?tã $ygÎ=÷dr&
4
öNä3Ï9ºs
×öyz öNä3©9 öNä3ª=yès9 crã©.xs? ÇËÐÈ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah
yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Pendapat Para
Ulama Tentang Hukum memperbolehklan Salam Kepada Non Muslim
- Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
- Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non muslim. Di anataranya Ibnu Mas,ud,Hasan Al Basri, Nakahei, dan Umar Abdul Aziz.
- Ibnu Hajar Al-asqalani menyebutkan di dalam kitabnya FathulBari bahawa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
- Abu Umamah berkata: Sesunguhnya Allah Taala menjadikan salam ini adalah untuk tahiyah(sambutan) kepada kita dan keamanan kepada orang bukan Islam(zimmi).
- Imam Al Qaradawi telah membincangkan perkara ini di dalam kitabnya yang bernilai Fikh Jihad
- Begitu juga dengan Professor Dr Saadudin Hilali di dalam kitabnya Huququl Insan secara jelas yang boleh melegakan hati kita.[9]
Dan pada kejadian di Luragung, Syekh
Syarif Hidayatullah bersama Pangeran Cakrabuana menggunakan metode kekuasaan dimana
pada kenyataanya Ki Gede Kemuning terkenal dengan ilmu adi luhung, maka Pangeran
Cakrabuana menggunakan pusaka golok cabang dan batok bulu untuk melawan
kesaktian Ki Gede Kemuning sehingga masuk Islam, sama halnya yang dilakukan
Nabi Muhammad dengan menyurati kerajaan-kerajaan untuk masuk Islam.
Berbeda dengan menghadapi Puteri
Ong Tien Nio dan rombongan, Syekh Syarif Hidayatullah menggunakan metode yang
lain, jika Puteri Ong Tien Nio dinikahi sebagai istri maka rombongan ditawarkan
masuk Islam dan sebelumnya dijelaskan arti tentang agama Islam dan disuruh
memilih jika percaya masuk Islam dan jika tidak, maka harus membuat perjanjian
dimana harus hidup rukun dan saling menghargai dibawah Kesultanan Cirebon.
Dalam dramatari terdapat beberapa
shalawat, pada adegan Syekh Syarif Hidayatullah syiar Islam di Negeri Tar Tar
dan pada acara pernikahan dengan Puteri Ong Tien Nio, kata “shalawat” diambil dari kata dasar shola
- yusholi - sholatan - sholawatan dan kata ini adalah bentuk jamak dari
kata shalat.
Menurut bahasa, arti shalawat adalah doa, rahmat Allah, berkah dan ibadah.
Secara terminologi, shalawat bermakna ”menyampaikan permohonan doa keselametan
dan keberkahan kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw. dan yang membacanya akan
dapat pahala.” [10]
dalam hal ini allah berfirman dalam surat al-ahzab ayat 41-43 :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä (#râè0ø$# ©!$# #[ø.Ï #ZÏVx.
ÇÍÊÈ çnqßsÎm7yur
Zotõ3ç/ ¸xϹr&ur ÇÍËÈ uqèd
Ï%©!$# Ìj?|Áã öNä3øn=tæ ¼çmçGs3Í´¯»n=tBur
/ä3y_Ì÷ãÏ9
z`ÏiB
ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# 4 tb%2ur tûüÏZÏB÷sßJø9$$Î/
$VJÏmu ÇÍÌÈ
Artnya : Hai orang-orang yang
beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan
petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan
ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya
(yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.[11]
Di dalam al qur’an, allah
menyebut langsung masalah shalwat dalam firmanya surat al-Ahzab ayat 56
:
¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áã
n?tã
ÄcÓÉ<¨Z9$# 4
$pkr'¯»t úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmøn=tã (#qßJÏk=yur
$¸JÎ=ó¡n@ ÇÎÏÈ
Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk
nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.[12]
Bershalawat artinya:
kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan
ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat
seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad.dengan
mengucapkan perkataan seperti: Assalamu'alaika ayyuhan Nabi
artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.
3.
Puteri Ong
Tien Nio sebagai Tokoh Taladan
Adegan
|
Deskripsi
|
Musik
|
Tokoh
|
Kertawara
|
Gong berry, Suling
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Sang raja memanggil Putri
Ong Tien yang beparas cantik nan anggun”
|
Trektek, Hentakan Kempreng
|
Puteri Ong Tien Nio,
Kaisar Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan
Hin, Sampo Talang, Dayang
|
|
“Karsa nira Syekh Syarif
Hidayatullah angungsi angawula ing Negara Cina, ing Raja Cina anggeger barang
pangopatanipun linempahaken dening Syarif”
|
Suling
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Raja Cina peputra putri
luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif
Hidayatullah alir kadang sudarma”
|
Tari Lampion
|
20 Penari Lampion
|
|
“Mankala hijaunya
teratai menghiasi karena netra warnanya sejuk meneduh dinding sukma yang lara”
“Ketika runcingya busur
cinta menusuk urat nadi bisanya mengalir”
“melumpuhkan jati dirin
disaat tajamnya panah asmara menikam raga racun meresap membunuh jiwa “
“Sepeninggal Syekh
Syarif Hidayatullah dari Negeri Cina, perasaan Puteri Ong Tien Nio Niogundah
gulana, selalu teringat dan terbayang sosok Syekh Syarif Hidayatullah
sehingga sakit”.
|
Ketuk
|
Puteri Ong Tien Nio
Kaisar Ong The
|
|
“Raja menugaskan
Perdana Menteri Sampo Talang Puteri Ong Tien Nio, Panglima Perang Lie Gwan
Chun, dan Nahkoda Lie Gwan Hin beserta pasukan untuk mendampingin Puteri Ong
Tien Nio berlayar”
|
-
|
-
|
|
“Ing wanci tan
ora kebagian during mati sukmae melayang-layang”
“Kresna dening
Syekh Syarif saking pulau jawa ora bisa den lupuri ora bisa di tinggal kali
badan lara sewu dadi sawiji”
|
Cirebonan
|
Puteri Ong Tien Nio dan
Kaisar Ong The
|
|
“Puteri Ong
Tien Nio tiba di tanah jawa bertemu dengan pasukan Adipati Keling sementara
Syekh Syarif Hidayatullah dan Pangeran Cakrabuana berada di daerah Luragung”
|
Sandal paulan,
perpindahan musik kecrek pajang sekar keputren
|
Panglima Perang Lie Gwan
Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keling, Rombongan
|
|
“Puteri Ong
Tien Nio dengan dikawal pasukan Adipati Keling tiba di daerah Luragung, Syekh
Syarif Hidayatullah menyambut kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut,
kemudian disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian
rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan
mengucap dua kalimat syahadat”
|
Pyang pyang pyang,
syahadat
|
Panglima Perang Lie Gwan
Chun, Nakhoada Lie Gwan Hin, Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio,
Pasukan Cina, Ki Gede Kemuning, Pasukan Ki Gede Kemuning
|
|
Tari Genjring
(Rudat)
“Pada tahun
1481 M, di Luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio”
|
Ilustrasi bonang,
Shalawat.
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
|
|
“Seiring
berjalanya waktu Puteri Ong Tien Nio mengandung”
|
Musik lahiran
(ilustrasi suling)
|
Syekh Syarif
Hidayatullah dan Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Puteri Ong
Tien Nio melahirkan Pangeran Kuningan sayang disayangkan Pangeran Kuningan
tidak berumur panjang”
|
Gemuruh,
|
Syeh Syarif dan Puteri
Ong Tien Nio
|
|
“Puteri Ong
Tien Nio dilanda kesedihan yang mendalam”
|
Gong berry (ilustrasi
suling)
|
Puteri Ong Tien Nio
|
|
“Mengtahui
istrinya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka Syekh Syarif
Hidayatullah memohon kepada Ki Gede Kemuning untuk mengangkat Pangeran Arya
Kemuning sebagai putranya”
|
-
|
-
|
|
Tari bokor
“Sebagai tanda
terima kasih Puteri Ong Tien Nio Niomemberikan tanda mata sebuah bokor
kuningan kepada Ki Gede Kemuning”
|
Mogang Goncang,
|
Puteri Ong Tien Nio, Ki
Gede Kemuing beserta Istri, 10 Penari Bokor
|
|
“Kisah
perjalanan bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah tidak
berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien Nio jatuh
sakit hingga merengut nyawanya”.
|
Hentakan 5, Tahlil
|
Syekh Syarif
Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi
|
|
Konotasi
|
Perjalanan biografi
Puteri Ong Tien Nio setelah bertemu dengan Syekh Syarif Hidayatullah dan
kecintaanya terhadap Syekh Syarif Hidayatullah rela meninggalkan kehidupan
mewah kerajaan dan juga keluarga serta mengarungi samudera dalam perjalanan
ke Tanah Jawa, tidak sampai disitu Puteri Ong Tien Nio ketika tiba di Cirebon
masih harus berjalan ke Luragung demi bertemu dengan Syekh Syarif
Hidayatullah
Berlanjut demi Syekh
Syarif Hidayatullah juga Puteri Ong Tien Nio masuk Islam, setelah waktu
berjalan Puteri Ong Tien Nio juga harus menerima cobaan bahwa bayinya
“Pangeran Kuningan” meninggal, kesedihan yang sangat dalam pada Puteri Ong
Tien Nio, Syekh Syarif Hidayatullah mengadopsi Putera Ki Gede Kemuning yaitu
Pangeran Arya Kemuning namun kesedihan beruntut-runtut menimpa kepada Puteri
Ong Tien Nio, setelah beberapa tahun Puteri Ong Tien Nio wafat.
|
||
Denotasi
|
banyak sekali yang
dikorbankan Puteri Ong Tien Nio demi kecintaanya terhadap Syekh Syarif
Hidayatullah, cobaan demi cobaan Puteri Ong Tien Nio bisa dilalui dengan
tabah, pada kelanjutanya harta, tahta, jiwa dan hidupnya di berikan semua
demi proses dakwahnya Syekh Syarif Hidayatullah sehingga Puteri Ong Tien Nio wafat.
|
||
Mitos
|
Puteri Ong Tien Nio merupakan
taladan bagi istri dimana Puteri Ong Tien Nio merupakan contoh wanita yang
sangat sabar dan tawakal sebagai contoh istri yang sholehah.
|
||
Nama Puteri Ong Tien Nio tidak
asing didengar oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cirebon. Perjuanganya
untuk bertemu Syekh Syarif Hidayatullah dengan mengarungi lautan dari Negeri Cina
hingga ke Muara Jati dan melanjutkan perjalanan ke Luragung berbuah manis, Puteri
Ong Tien Nio kemudian masuk Islam dan dinikahi oleh Syekh Syarif Hidayatullah. Puteri
Ong Tien Nio merupakan istri yang sangat dicintai oleh Syekh Syarif
Hidayatullah, pengabdian Puteri Ong Tien Nio pada Syekh Syarif Hidayatullah
tidak diragukan lagi. Beliau memberikan seluruh jiwa dan raganya serta seluruh
kekayaanya untuk kepentingan dakwah suami tercinta.
Sehingga Syekh Syarif
Hidayatullah mewasiatkan agar dimakamkan berdampingan dengannya, Puteri Ong
Tien Nio dimakamkan di dalam pura, sebagai penghargaan atas sifat yang sangat
berbakti kepada suami, mengikuti Rasulullah yang dimakamkan di Madinah tidak
jauh dari makam putrinya.
Keutamaan Puteri Ong Tien Nio adalah
ia seorang wanita yang cantik, kaya, keturunan raja, berperangai baik, cerdas,
ramah, serta pandai mengurus suami (berbakti kepada suami)[13]
[1]
Brosur Pendaftaran, (Arsip Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirbonan)
[2]
Lanlan Ramlan, Tayub Cirebonan Artefak
budaya masyarakat Priyayi,(Bandung:
Sunan Ambu Press- STSI Bandung, 2008), h, 37-38.
[3]
Ibid, h, 39-40
[4]
Puji Santosa, Ancangan Semiotika Dan
Pengkajian Susastra, (Bandung: CV. Angkasa, 2013), h, 24
[5]
Yudiayani, Panggung Tetaer Dunia,(Yogyakarta:
Pustaka Ghondo Suli, 2002), h, 350-351
[6]
Ibid, 354-355
[7]
Cut Video Drama Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio (Arsip Sanggar Seni Sekar Pandan
Keraton Kacirebonan)
[8]Asep
Saeful Muhatdi dan Agus Ahmad Safei, Metode
Penelitian Dakwah,(Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), h, 27.
[9]
http://rayhanmogerz.blogspot.com/2012/10/memberi-salam-kepada-non-muslim.html,
5 November 2013 12:31
[10]
Habib Syarief Nuhammad Alaydarus, 135
Shalawat Nabi,Cetakan ke VI (Bandung: Pustaka Hidayah, 2012), h, 19
[11]
Al Qur’an dan Terjemah Departemen Agama,(
Semarang: CV. Asy-Syfa, 2001), h, 936
[12]
Ibid, h, 941.
[13]
Dyah Komala Laksmiwati, Putri Ong Tin Nio,
(Sleman: CV Budi Utama, 2013), h, 72.
Komentar
Posting Komentar