SKRIPSI BAB IV DAKWAH MELALUI DRAMATARI



BAB IV
ANALISIS SEMIOTIKA
DRAMATARI KOLOSAL PUTERI ONG TIEN NIO
SANGGAR SENI SEKAR PANDAN KERATON KACIREBONAN.

A.    Analisis Dramatari sebagai Media Hiburan
Sebagai suatu kegiatan, seni tari memiliki beberapa fungsi, yaitu seni tari sebagai sarana upacara, seni tari sebagai hiburan, seni tari sebagai media pergaulan, seni tari sebagai penyaluran terapi, seni tari sebagai media pendidikan, seni tari sebagai pertunjukan, dan seni tari sebagai media katarsis.
Dramatari sebagai seni hiburan tidak lepas dari cerita/ lakon dan tangan sutradara dalam bentuk penyajianya. Dramatari pada intinya adalah mengkemas cerita/ lakon yang akan di sampaikan pada penonton melalui gerak tari, sebagai media hiburan, dramatari diharapkan mampu memberikan kepuasan kepada penonton atas pertunjukan yang di tampilkan.
Dramatari sebagai media hiburan yang bermutu tinggi, artinya banyak sekali hiburan-hiburan yang kurang mendidik pada era globalisasi ini. Dramatari juga bisa berfungsi sebagai alternatif wisata keluarga dan kerabat dalam memilih liburan sekolah atau kuliah.
Dalam perjalanan waktu, pertunjukan kesenian dibagi menjadi dua kateori: bentuk hiburan dan sebagai bentuk karya seni,kedua bentuk tersebut terkadang saling tumpang tindih, satu saat salah satu diantaranya menjadi bentuk hiburan dan satunya menjadi bentuk karya seni.
Memahami dramatari sebagai media hiburan, disadari atau tidak, hiburan mendominasi sikap, penilaian, dan minat masyarakat keseharian, sehingga sangat mudah bentuk pertunjukan semacam ini disamakan dengan permaian undian, olahraga, dan hiburan yang lainya.
Sutradara sangat dominan dalam memilih dan mengkonsep secara keseluruhan pertunjukan. Sutradara juga bertanggungjawab secara moral atas karyanya dihadapan penonton.
Sementara banyak unsur-unsur dalam dramatari yang dapat sebagai bentuk hiburan, maka berpotensi pula dramatari sebagai karya seni.

Adegan
Deskripsi
Musik
Tokoh
Tari Topeng Klana 5 gaya : Losari, Slangit, Palimanan, Gegesik dan Indramayu

Gonjing
50 Penari Topeng
“Raja Cina peputra puteri luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif Hidayatullah alir kadang sudarma”
Tari Lampion
20 Penari Lampion
Tari sudu
Rangsang

Bodoran
-
Bodor
Membentuk perahu
Suling
Tandu, Umbul-Umbul, Liong. Tari Lampion
Pencak silat
Terompet, Gendang pencak
Pencak Silat
Tari batik
Gunung sari
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tin, 10 Penari Batik

Pada gambar atas beberapa adegan dalam dramatari kolosal puteri ong tien yang mempunyai nilai hiburan dan juga mempunyai nilai tersembunyi secara simbolik yang berkaitan dengan isi tari tersebut dan alur cerita dramatari Puteri Ong Tien Nio sendiri.
Tari topeng mempunyai nilai hiburan yang mengandung pesan tersembunyi, karena unsur-unsur didalamnya mempunyai arti simbolik yang sangat menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Tari topeng kelana atau rahwana menggambarkan sifat angkara murka yang terdapat dalam jiwa manusia. Dikaitkan dengan ajaran Islam, Kelana artinya kembaran atau mencari,  bahwa hidup ini kita wajib berikhtiar.[1]
Tari Lampion menggambarkan suasana sedih, gemerlap lilin menyala adalah symbol kesendirian, kesedihan, kensunyian, dan sebagainya. Tari Sudu adalah tari nelayan yang sedang menangkap ikan, menggambarkan proses pekerjaan kehidupan nelayan Cirebon, adapun lilin yang berada diatas kepala adalah menandakan nelayan bekerja pada malam hari.
Bodoran adalah sejenis lawakan khas Cirebon, bodoran berarti bercanda, lawak, menghibur, dan lain sebagainya. Mengambarkan kepanikan para penduduk Cirebon terhadap rombongan Cina yang datang di pelabuhan dengan humor. Liong adalah kesenian khas china. Mengambarkan tentang selerasan kebudayaan cina dan Cirebon. Pencak silat adalah ilmu beladiri, pada gambar di atas merupakan gambaran ilmu beladiri masyarakat Cirebon yaitu pencak silat Cirebon.
Tari Batik adalah tari penggambaran proses pembuatan batik dari mulai memilih bahan, mambatik, menyuci, dan menjemur. Penggambaran tentang kebudayaan sandang pada masa itu. Beberapa mortif batik Cirebon adalah motif mega mendung, motif koda udang, motif supit urang (urang ayu), motif jangkar puteri cina, motif piring sepalad, motif kapal minggir, dan motif kapal kandas.  

B.     Analisis Dakwah melalui Dramatari
Berbicara tentang seni dan budaya yang berkembang di Cirebon, Hal Ini tidak lepas dari kehadiran Sunan Kali Jaga yang mempunyai arti sangat penting, disamping iya dipercaya sebagai tokoh pertama dan utama yang menciptakan dan menghidupkan kesenian di Cirebon khususnya, Sunan Kali Jaga lah yang menggunakan  kesenian sebagai media dakwah dalam mensyiarkan agama Islam.[2]
Keberadaan kerajaan Islam Pakungwati (Kesepuhan) yang besar dan berpengaruh dan seni budaya dilingkungan keraton, manandakan keselarasan bahkan menjadi  pusat keberadaan seni-seni tradisional saat itu.[3]
Pada pengkajian semiotika estetis dapat kita temukan adanya korelasi tanda-tanda estetis dengan masalah-masalah kesenian. Korespodensi antara penanda dan petanda perlu mendapatkan pertimbangan secara estetis. Sifat dari tanda-tanda dalam karya seni adalah kreatif dan dinamis sehingga harus ditemukan kembali penafsir. Kaidah penandaan dalam seni tidak pernah tetap, melainkan berubah-ubah. Tanda yang diciptakan seniman dalam karya seninya secara umum bersifat individual, khusus, subjektif, dan berciri khas diikuti oleh makna-makna sertaan.[4]
Amanat dalam karya seni merupakan dasar wawasan budaya pengarang. Dasar wawasan budaya inilah sebuah pewartaan (informasi) dalam amanat yang di sampaikan, yaitu mengajarkan sesuatu hal sambil meberi hiburan.
Dramatari tidak lepas dari karya sastra/ naskah, amanat atau pesan merupakan dalam mengkaji karya sastra, setiap bentuk karya sudah tentu memiliki pesan atau amanat yang ingin disampaikan kepada penonton, dan dalam amanat terkandung hikmah dan tata nilai yang luhur dan penuh dinamika yang hendak disampaikan pengarang kepada apresiator. Sutradara sebagai orang yang paling bertanggungjawab dalam karya seninya, barang tentu harus cermat dalam memilih naskah dan interpretasi cerita dalam sebuah pertunjukan.
Dalam rangka memahami naskah, sutradara melakukan berbagai langkah pendekatan untuk pemanggungan naskah. Terdapat beberapa cara pendekatan[5]:
  1. Sutradara adalah penafsir naskah langsung ke atas panggung; menterjemahkan secara lengkap, halaman demi halaman staging yang ditulis oleh pengarang.
  2. Pandangan sutradara yang tujuannya untuk menangkap spirit naskah, meskipun akan jauh berbeda dari pengarangnya.
  3. Merupakan cara kerja yang tidak terpusat apada naskah tetapi menjadi acuan. Sutradara bebas membentuk kembali naskah jika dipandang akan menghasilkan naskah yang labih bernas.
  4. Penyutradaraan ini benar-benar menghilangkan peran seorang penulis.
Di samping pendekatan-pendekatan tersebut, sutradara harus melakukan kerjasama untuk merubah obsesinya ke dalam realita. Melalui kerjasama tim art (aktor, naskah, serta artistik) agar tercapai perancangan yang tepat. Di bawah ini adalah bagan perancangan sebagai berikut:
  1. Klasifikasi panggung sebagai alat kontol menyeluruh.
·      Jenis Naskah
·      Hubungan Pementasan dan penonton
·      Konvensi
·      Gaya
  1. Analisis panggung sebagai membangun struktur dan tekstur panggung
·         Struktur: Plot. Penokohan, Tema
·         Tekstur: Dialog, Suasana, Spektekel
  1. Pemilihan materi dan teknik pemanggungan
·         Sutradara
Ø  Pilihan Materi: akting, ruang, waktu, garis, warna, cahaya
Ø  Pilihan Teknik: komposisi, gambar atau sketsa, movement, dramatisasi pantomimik, irama
·         Bagi Pemain
Ø  Pilihan Materi: tubuh, pikiran, perasaan
Ø  Pilihan Teknik: membaca dialog, movement, dramatisasi pantomimik, irama, gestur.
·         Bagi Perancang Artistik
Ø  Pilihan Materi: ruang, garis, bentuk, gerakan,
Ø  Pilihan Teknik: berawal dari realisme, bergerak ke arah akting, mendalami suasana dan atmosfer, skeneri atau pencetus gagasan. [6]

C.    Analisis Nilai- Nilai Dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan
Dramatari adalah suatu bentuk kesenian alternatif kolaborasi antara seni drama dan seni tari, dramatari bisa memiliki banyak arti tergantung siapa yang melihat dan menikmatinya. Dramatari adalah kesenian yang sarat akan simbol-simbol yang bermakana, simbol berfungsi sebagai memimpin pemahaman subyek pada obyek
Dapat dikatakan dalam sebuah garapan mempunyai makna-makna tertentu yang akan ditawarkan kepada penonton, perwujudan makna-makna tersebut biasa berisi tentang, sosial, ekonomi, religi sejarah ataul hal-hal yang menjadi pusat perhatian penulis naskah, sutradara, dan produser.
Penulis mencoba menginterpretasi terhadap dramatari kolosal Puteri Ong Tien Nio, dibawah ini merupakan upaya penulis untuk menganalisa adegan adegan yang menggambarkan nilai-nilai dakwah dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio, dengan menggunakan analisi semiotik karya Roland Barthes.
1.    Makna Konotasi, Denotasi, dan Mitos
            Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio adalah dramatari dengan latar belakang biografi Puteri Ong Tien Nio berjumpa dengan Syekh Syarif Hidayatullah di Negeri Tar Tar kemudian memeluk Islam serta menikah dengan Syekh Syarif Hidayatullah sampai wafatnya. Menceritakan tentang nilai-nilai dakwah seperti dakwah dengan pengobatan, kekuasaan, pernikahan. Puteri Ong Tien Nio sebagai tokoh taladan. Penulis akan berusaha menguraikan makna konotasi, denotasi dan mitos dalam Dramatari Kolsal Puteri Ong Tien Nio.
            Dakwah dalam analisis semiotik akan menjadi pananda (signifier) dakwah merupakan aspek materialnya sedang apa yang ditunjukanya atau petandanya adalah dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio, penulis ingin memulainya dengan cara demikian, sedemikian rupa sehingga mampu menguraikan apa yang tersirat dan tersurat dalam teks dan video Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio.[7]

Adegan
Deskripsi
Musik
Tokoh
Tari Topeng Klana 5 gaya : Losari, Slangit, Palimanan, Gegesik dan Indramayu

Gonjing
50 Penari Topeng
Kertawara
Gong beri, Suling
Puteri Ong Tien Nio
Rakyat Masuk mendengar dakwah Syekh Syarif Hidayatullah
Hentakan (pelog), Shalawat, Syahadat
Syekh Syarif Hidayatullah, Rakyat Cina
“Kibaran panji-panji kebesaran menjilati angkasa bagaikan sang naga bertahta di Negeri Tar Tar yang dipimpin oleh Raja Ong The”
Jinem (Salendro)
20 Penari Bendera
Prajurit Cina membacakan Tihta Raja
Bende
1 Prajurit
Raja tiba di istana, berdialog dengan Sampo Talang,

Syekh Syarif Hidayatullah muncul menghadapi raja, Sampo Talang menghadap raja
Music cina
Wayang klitik

Wayang klitik
Raja Ong The, Bendera Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Biksu, Syekh Syarif Hidayatullah, Sampo Talang, Parjurit
Sang raja memanggil Puteri Ong Tien Nio yang beparas cantik nan anggun
Trektek, hentakan kempreng
Puteri Ong Tien Nio, Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang
“Sang raja mengajukan pertanyaan kepada Syekh Syarif Hidayatullah, perihal kondisi isi perut putrinya, syarif hidayatullah menjawab pertanyaan sang raja bahwa Puteri Ong Tien Nio saat ini tengah hamil”
Suling marah, hentakan I (Salendro)
Puteri Ong Tien Nio, Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang
“Diluar nalar manusia ternyata bokor yang berada dibalik busana menghilang, perut Puteri Ong Tien Nio membesar layaknya orang hamil”
Suling bingung, hentakan 2
(salendro)
Puteri Ong Tien Nio, Raja Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang
“Raja tertegun, diam terpaku tak dapat berkata sepatah kata pun”
Suling gelisah
Hentakan 3
 (salendro)
Puteri Ong Tien Nio, Raja Ong The, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang, Umbul-Umbul
“Karsanira Syekh Syarif Hidayatullah angungsi angawula ing Negara Cina, ing Raja Cina anggeger barang pangopatanipun linempahaken dening Syarif ”
Suling
Puteri Ong Tien Nio
“Raja Cina peputra puteri luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif Hidayatullah alir kadang sudarma”
Tari Lampion
20 Penari Lampion
“Mankala hijaunya teratai menghiasi karena netra warnanya sejuk meneduh dinding sukma yang lara”
“Ketika runcingya busur cinta menusuk urat nadi bisanya mengalir” “melumpuhkan jati diri disaat tajamnya panah asmara menikam raga racun meresap membunuh jiwa “
“Sepeninggal Syekh Syarif Hidayatullah dari Negeri Cina, perasaan Puteri Ong Tien Nio Niogundah gulana, selalu teringat dan terbayang sosok Syekh Syarif Hidayatullah sehingga sakit”
Ketuk
Puteri Ong Tien Nio, Dayang
“Raja menugaskan Perdana Menteri Sampo Talang, Panglima Perang Lie Gwan Chun, dan Nahkoda Lie Gwan Hin beserta pasukan untuk mendampingin Puteri Ong Tien Nio berlayar”


-
-
“Ing wanci tan ora kebagian during mati seukmae melayang-layang”
“Kresna dening Syakh Syarif saking pulau jawa ora bias den ;lupuri ora bisa di tinggal kali badan lara sewu dadi sawiji”
Cirebonan
Puteri Ong Tien Nio, Raja Ong The
Membentuk perahu
Suling
Tandu, Umbul-Umbul, Liong. Tari Lampion
Tari sudu
Rangsang

“berdiri dihempas gelombang badai samudera kokoh dan tangguh diterjang desingan angin utara berjalan dibakar panasnya terik…”

Mentak
Penari Sudu,
Adipati Keeling
Bodoran

Bodor
Puteri Ong Tien Nio tiba di Tanah Jawa bertemu dengan pasukan Adipati Keling sementara Syekh Syarif Hidayatullah dan Pangeran Cakrabuana berada didaerah Lurahgung
Sandal paulan, perpindahan musik kecrek pajang, sekar keputren
Panglima Perang Lie Gwan Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keeling, Rombongan
Perang Liong
“Adipati Keling saling adu kekuatan dengan pasukan Cina, karena rombongan Cina tidak memakai etika berkunjung, namun akhirnya berhenti dan mengawal rombongan Cina ke Luragung”

Panglima Perang Lie Gwan Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keeling, Rombongan
Tari Ki Gede Kemuning
“Ditatar priangan timur tersebutlah satu pedukuhan bernama luragung pada saat itu dipimpin oleh Ki Gede Kemuning seorang tokoh yang tangguh berilmu adiluhung sehingga pada saat Syekh Syarif Hidayatullah bersama Pangeran Cakrabuana bertandang untuk syiar agama Islam di daerah itu, dengan lantang dan menantang, Ki Gede Kemuning menolak pada kekuasaan Cirebon”
Wayang perang
Batangan

Ki Gede Kemuning
Pencak silat
Terompet, Gendang pencak
Pencak Silat
“Maka terjadilah adu kesaktian antara Ki Gede Kemuning dan Pangeran Cakrabuana”
Wayang perang, Gawa (salendro) berry berhenti di 2
Ki Gede Kemuning, Pengeran Cakrabuana
Pangeran Cakrabuana mengeluarkan pusaka Batok Bulu untuk mengeluarkan Laskar wirog
Gemuruh
Syekh Syarif Hidayatullah, Pangeran Cakrabuana,
Laskar Wirog
Gemuruh
Laskar Wirog
“Akhirnya Ki Gede Kemuning mengakui kedigjayaan Pangeran Cakrabuana, Pangeran mengeluarkan Golok Cabang untuk menghilangkan Laskar Wirog”
Hentakan gong berry 3x, sholawatan lambat
Obor Golok Cabang, Ki Gede Kemuning, Pangeran Cakrabuana, Laskar Wirog
“Puteri Ong Tien Nio dengan dikawal pasukan Adipati Keling tiba didaerah Luragung, Syekh Syarif Hidayatullah menyambut kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut, kemudian disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat”
Pyang pyang pyang, syahadat
Panglima Perang Lie Gwan Chun, Nakhoada Lie Gwan Hin, Panngeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio, Pasukan Cina, Ki Gede Kemuning, Pasukan Ki Gede Kemuning
Tari genjring
(rudat)
“Pada tahun 1481 M, di luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio
Ilustrasi bonang, Shalawat
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
“Seiring berjalanya waktu Puteri Ong Tien Nio mengandung”

Musik lahiran
(ilustrasi suling)
Syekh Syarif Hidayatullah beserta Puteri Ong Tien Nio
“Puteri Ong Tien Nio melahirkan Pangeran Kuningan sayang disayangkan Pangeran kuningan tidak berumur panjang”
Gemuruh,
Syekh Syarif dan Puteri Ong Tien Nio
“Puteri Ong Tien Nio dilanda kesedihan yang mendalam”
Gong berry (ilustrasi suling)
Puteri Ong Tien Nio
“Mengtahui istrinya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka Syekh Syarif Hidayatullah memohon kepada Ki Gede Kemuning untuk mengangkat Pangeran Arya Kemuning sebagai putranya”
-
-
Tari bokor
“Sebagai tanda terima kasih Puteri Ong Tien Nio Nio memberikan tanda mata sebuah bokor kuningan ke pada Ki Gede Kemuning”
Mogang goncang,
Puteri Ong Tien Nio, Ki Gede Kemuing Beserta Istri, 10 Penari Bokor
Tari batik
Gunung sari
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tin, 10 Penari Batik
“Kisah perjalanan bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah”
“Hidayatullah tidak berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien Nio jatuh sakit hingga merengut nyawanya”.
Hentakan 5, Tahlil
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi

2.      Nilai-Nilai Dakwah dalam Dramtari Puteri Ong Tien Nio
Dalam Dramatari Kolosal Puteri Ong Tien Nio memperlihatkan proses penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Syekh Syarif Hidayatullah melalui beberapa metode yang tepat dalam setiap situasi dan kondisi yang terjadi. Ketika di Negeri Tar Tar yang jauh dari Cirebon melalui ilmu pengobatan melakukan syiar agama Islam, di Luragung menggunakan kekuasaan, Puteri Ong Tien Nio dengan perkawinan dan beberapa musik mengandung shalawat-shalawat dan syahadat.

Adegan
Deskripsi
Musik
Tokoh
Rakyat Masuk mendengar dakwah Syekh Syarif Hidayatullah
Hentakan (pelog), Shalawat, Syahadat
Syekh Syarif Hidayatullah, Rakyat Cina
“Asalamualaikum”
Gemuruh
Syekh Syarif Hidayatullah, Kaisar Ong The
Syekh Syarif Hidayatullah memohon pamit untuk pulang ke tanah jawa “Asalamualaikum”
Ilustrasi suling
Syekh Syarif Hidayatullah, Kaisar Ong The
“Maka terjadilah adu kesaktian antara Ki Gede Kemuning dan Pangeran Cakrabuana”
Wayang perang, Gawa (salendro) berry (berhenti di 2)
Ki Gede Kemuning, pengeran cakrabuana
Puteri Ong Tien Nio dengan dikawal pasukan Adipati Keling tiba di daerah Luragung, Syekh Syarif Hidayatullah menyambut “kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut, kemudian disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat”
Pyang pyang pyang, syahadat
Panglima perang lie gwan chun, nakhoada lie gwan hin, panngeran cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio, pasukan cina, Ki Gede Kemuning, pasukan Ki Gede Kemuning
Tari Genjring
(Rudat)
“Pada tahun 1481 M, di luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio”
Ilustrasi bonang, Shalawat
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
“Kisah perjalanan bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah tidak berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien Nio jatuh sakit hingga merengut nyawanya”.
Hentakan 5, tahlil
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi
Denotasi
Gambar Syekh Syarif Hidayatullah beserta Penari Lampion menggambarkan perjalanan dakwah Syekh Syarif Hidayatullah di Negeri Tar Tar dengan narasi kalimat syahadat sebagai tandanya.
Syekh Syarif Hidayatullah sebagai undangan kerajaan mengucap salam terhadap Kaisar Ong The  dan pada akhir permohonan pamit juga.
Gambar diatas juga menggambarkan dakwah Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah kepada Ki Gede Kemuning malalui kekuasaan di Luragung, serta Puteri Ong Tien Nio membacakan kalimat syahadat bersama sebagian rombongan menandakan dakwah Islam tidak memaksa, sekaligus menikahi Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke 3 Syekh Syarif Hidayatullah.
Dalam dramatari kolosal juga terdapat musik tentang shalawat-shalawat, tahlil sebagai ilustrasi.
Konotasi
Dalam proses dakwah Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah merupakan contoh da’i yang taladan terdapat metode-metode dakwah seperti pengobatan, sikap yang santun, kekuasaan, dan perkawinan.
Mitos
Karena adanya berbagai macam situasi kondisi yang berbeda dalam proses penyampaian dakwah dilihat dari mad’u seorang dai harus pintar dalam memilih metode yang tepat agar dakwanya efektif.

Pada dasarnya dakwah adalah mengajak ke jalan kebenaran, dalam prosesnya mempunyai tantangan-tantangan berbeda-beda sesuai dengan lingkungan,  dalam hal ini dikisahkan Syekh Syarif Hidayatullah berdakwah di Negeri Tar Tar  dengan menggunakan metode pengobatan, karena memang di Cina terkenal dengan ilmu kedokteran, maka Syekh Syarif Hidayatullah Hidayatullah dengan pengobatan dzikir dan shalawat sebagai alternatif.
Syekh Syarif Hidayatullah sebagai tamu undangan kerajaan mengucapkan salam kepada Kaisar Ong The  yang telah memanggilnya dan mengakhiri pertemuaan dengan salam pula, dalam konteks inilah, Rasulullah dikenal sebagai uswatun Hasanah, yaitu sosok yang menjadi pola dalam membentuk perilaku umat manusia.[8]
Sikap Syekh Syarif Hidayatullah sebagai tamu undangan kerajaan, seperti dalam firman allah Surat An Nur ayat 27:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=äzôs? $·?qãç/ uŽöxî öNà6Ï?qãç/ 4_®Lym (#qÝ¡ÎSù'tGó¡n@ (#qßJÏk=|¡è@ur #n?tã $ygÎ=÷dr& 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 öNä3ª=yès9 šcr㍩.xs? ÇËÐÈ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Pendapat Para Ulama Tentang Hukum memperbolehklan Salam Kepada Non Muslim
  1. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
  2. Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non muslim. Di anataranya Ibnu Mas,ud,Hasan Al Basri, Nakahei, dan Umar Abdul Aziz.
  3. Ibnu Hajar Al-asqalani menyebutkan di dalam kitabnya FathulBari bahawa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
  4. Abu Umamah berkata: Sesunguhnya Allah Taala menjadikan salam ini adalah untuk tahiyah(sambutan) kepada kita dan keamanan kepada orang bukan Islam(zimmi).
  5. Imam Al Qaradawi telah membincangkan perkara ini di dalam kitabnya yang bernilai Fikh Jihad
  6. Begitu juga dengan Professor Dr Saadudin Hilali di dalam kitabnya Huququl Insan secara jelas yang boleh melegakan hati kita.[9]
Dan pada kejadian di Luragung, Syekh Syarif Hidayatullah bersama Pangeran Cakrabuana menggunakan metode kekuasaan dimana pada kenyataanya Ki Gede Kemuning terkenal dengan ilmu adi luhung, maka Pangeran Cakrabuana menggunakan pusaka golok cabang dan batok bulu untuk melawan kesaktian Ki Gede Kemuning sehingga masuk Islam, sama halnya yang dilakukan Nabi Muhammad dengan menyurati kerajaan-kerajaan untuk masuk Islam.
Berbeda dengan menghadapi Puteri Ong Tien Nio dan rombongan, Syekh Syarif Hidayatullah menggunakan metode yang lain, jika Puteri Ong Tien Nio dinikahi sebagai istri maka rombongan ditawarkan masuk Islam dan sebelumnya dijelaskan arti tentang agama Islam dan disuruh memilih jika percaya masuk Islam dan jika tidak, maka harus membuat perjanjian dimana harus hidup rukun dan saling menghargai dibawah Kesultanan Cirebon.
Dalam dramatari terdapat beberapa shalawat, pada adegan Syekh Syarif Hidayatullah syiar Islam di Negeri Tar Tar dan pada acara pernikahan dengan Puteri Ong Tien Nio,  kata “shalawat” diambil dari kata dasar shola - yusholi - sholatan - sholawatan dan kata ini adalah bentuk jamak dari kata shalat. Menurut bahasa, arti shalawat adalah doa, rahmat Allah, berkah dan ibadah. Secara terminologi, shalawat bermakna ”menyampaikan permohonan doa keselametan dan keberkahan kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw. dan yang membacanya akan dapat pahala.” [10] dalam hal ini allah berfirman dalam surat al-ahzab ayat 41-43 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ÏŒ #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ çnqßsÎm7yur Zotõ3ç/ ¸xϹr&ur ÇÍËÈ uqèd Ï%©!$# Ìj?|ÁムöNä3øn=tæ ¼çmçGs3Í´¯»n=tBur /ä3y_̍÷ãÏ9 z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# 4 tb%Ÿ2ur tûüÏZÏB÷sßJø9$$Î/ $VJŠÏmu ÇÍÌÈ
Artnya : Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah.  Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.[11]
Di dalam al qur’an, allah menyebut langsung masalah shalwat dalam firmanya surat al-Ahzab ayat 56 :
¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áムn?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4 $pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmøn=tã (#qßJÏk=yur $¸JŠÎ=ó¡n@ ÇÎÏÈ

Artinya :  Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.[12]
Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad.dengan mengucapkan perkataan seperti: Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.




3.    Puteri Ong Tien Nio sebagai Tokoh Taladan
Adegan
Deskripsi
Musik
Tokoh
Kertawara
Gong berry, Suling
Puteri Ong Tien Nio
“Sang raja memanggil Putri Ong Tien yang beparas cantik nan anggun”
Trektek, Hentakan Kempreng
Puteri Ong Tien Nio, Kaisar Ong The, Syekh Syarif Hidayatullah, Panglima Lie Gwan Chun, Lie Gwan Hin, Sampo Talang, Dayang



“Karsa nira Syekh Syarif Hidayatullah angungsi angawula ing Negara Cina, ing Raja Cina anggeger barang pangopatanipun linempahaken dening Syarif”
Suling
Puteri Ong Tien Nio
“Raja Cina peputra putri luwih ayu, retna gandum wartanira, lulut asih lankuh jawa Syekh Syarif Hidayatullah alir kadang sudarma”
Tari Lampion
20 Penari Lampion
“Mankala hijaunya teratai menghiasi karena netra warnanya sejuk meneduh dinding sukma yang lara”
“Ketika runcingya busur cinta menusuk urat nadi bisanya mengalir”
“melumpuhkan jati dirin disaat tajamnya panah asmara menikam raga racun meresap membunuh jiwa “
“Sepeninggal Syekh Syarif Hidayatullah dari Negeri Cina, perasaan Puteri Ong Tien Nio Niogundah gulana, selalu teringat dan terbayang sosok Syekh Syarif Hidayatullah sehingga sakit”.
Ketuk
Puteri Ong Tien Nio
Kaisar Ong The
“Raja menugaskan Perdana Menteri Sampo Talang Puteri Ong Tien Nio, Panglima Perang Lie Gwan Chun, dan Nahkoda Lie Gwan Hin beserta pasukan untuk mendampingin Puteri Ong Tien Nio berlayar”
-
-
“Ing wanci tan ora kebagian during mati sukmae melayang-layang”
“Kresna dening Syekh Syarif saking pulau jawa ora bisa den lupuri ora bisa di tinggal kali badan lara sewu dadi sawiji”
Cirebonan
Puteri Ong Tien Nio dan Kaisar Ong The
“Puteri Ong Tien Nio tiba di tanah jawa bertemu dengan pasukan Adipati Keling sementara Syekh Syarif Hidayatullah dan Pangeran Cakrabuana berada di daerah Luragung”
Sandal paulan, perpindahan musik kecrek pajang sekar keputren
Panglima Perang Lie Gwan Chun, Nakhoda Lie Gwan Hin, Puteri Ong Tien Nio, Adipati Keling, Rombongan
“Puteri Ong Tien Nio dengan dikawal pasukan Adipati Keling tiba di daerah Luragung, Syekh Syarif Hidayatullah menyambut kedatangan Puteri Negeri Cina tersebut, kemudian disaksikan Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio beserta sebagian rombongan dan Ki Gede Kemuning beserta pasukanya memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat”
Pyang pyang pyang, syahadat
Panglima Perang Lie Gwan Chun, Nakhoada Lie Gwan Hin, Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien Nio, Pasukan Cina, Ki Gede Kemuning, Pasukan Ki Gede Kemuning
Tari Genjring
(Rudat)
“Pada tahun 1481 M, di Luragung Syekh Syarif Hidayatullah menikahi Puteri Ong Tien Nio”
Ilustrasi bonang, Shalawat.
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio, Tari Genjring, Umbul-Umbul Payung
“Seiring berjalanya waktu Puteri Ong Tien Nio mengandung”

Musik lahiran
(ilustrasi suling)
Syekh Syarif Hidayatullah dan Puteri Ong Tien Nio
“Puteri Ong Tien Nio melahirkan Pangeran Kuningan sayang disayangkan Pangeran Kuningan tidak berumur panjang”
Gemuruh,
Syeh Syarif dan Puteri Ong Tien Nio
“Puteri Ong Tien Nio dilanda kesedihan yang mendalam”
Gong berry (ilustrasi suling)
Puteri Ong Tien Nio
“Mengtahui istrinya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka Syekh Syarif Hidayatullah memohon kepada Ki Gede Kemuning untuk mengangkat Pangeran Arya Kemuning sebagai putranya”
-
-
Tari bokor
“Sebagai tanda terima kasih Puteri Ong Tien Nio Niomemberikan tanda mata sebuah bokor kuningan kepada Ki Gede Kemuning”
Mogang Goncang,
Puteri Ong Tien Nio, Ki Gede Kemuing beserta Istri, 10 Penari Bokor
“Kisah perjalanan bahagia Puteri Ong Tien Nio bersama Syekh Syarif Hidayatullah tidak berlangsung lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera, Puteri Ong Tien Nio jatuh sakit hingga merengut nyawanya”.
Hentakan 5, Tahlil
Syekh Syarif Hidayatullah, Puteri Ong Tien Nio dan Penari Ilustrasi
Konotasi
Perjalanan biografi Puteri Ong Tien Nio setelah bertemu dengan Syekh Syarif Hidayatullah dan kecintaanya terhadap Syekh Syarif Hidayatullah rela meninggalkan kehidupan mewah kerajaan dan juga keluarga serta mengarungi samudera dalam perjalanan ke Tanah Jawa, tidak sampai disitu Puteri Ong Tien Nio ketika tiba di Cirebon masih harus berjalan ke Luragung demi bertemu dengan Syekh Syarif Hidayatullah
Berlanjut demi Syekh Syarif Hidayatullah juga Puteri Ong Tien Nio masuk Islam, setelah waktu berjalan Puteri Ong Tien Nio juga harus menerima cobaan bahwa bayinya “Pangeran Kuningan” meninggal, kesedihan yang sangat dalam pada Puteri Ong Tien Nio, Syekh Syarif Hidayatullah mengadopsi Putera Ki Gede Kemuning yaitu Pangeran Arya Kemuning namun kesedihan beruntut-runtut menimpa kepada Puteri Ong Tien Nio, setelah beberapa tahun Puteri Ong Tien Nio wafat.
Denotasi
banyak sekali yang dikorbankan Puteri Ong Tien Nio demi kecintaanya terhadap Syekh Syarif Hidayatullah, cobaan demi cobaan Puteri Ong Tien Nio bisa dilalui dengan tabah, pada kelanjutanya harta, tahta, jiwa dan hidupnya di berikan semua demi proses dakwahnya Syekh Syarif Hidayatullah sehingga Puteri Ong Tien Nio wafat.
Mitos
Puteri Ong Tien Nio merupakan taladan bagi istri dimana Puteri Ong Tien Nio merupakan contoh wanita yang sangat sabar dan tawakal sebagai contoh istri yang sholehah.

Nama Puteri Ong Tien Nio tidak asing didengar oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cirebon. Perjuanganya untuk bertemu Syekh Syarif Hidayatullah dengan mengarungi lautan dari Negeri Cina hingga ke Muara Jati dan melanjutkan perjalanan ke Luragung berbuah manis, Puteri Ong Tien Nio kemudian masuk Islam dan dinikahi oleh Syekh Syarif Hidayatullah. Puteri Ong Tien Nio merupakan istri yang sangat dicintai oleh Syekh Syarif Hidayatullah, pengabdian Puteri Ong Tien Nio pada Syekh Syarif Hidayatullah tidak diragukan lagi. Beliau memberikan seluruh jiwa dan raganya serta seluruh kekayaanya untuk kepentingan dakwah suami tercinta.
Sehingga Syekh Syarif Hidayatullah mewasiatkan agar dimakamkan berdampingan dengannya, Puteri Ong Tien Nio dimakamkan di dalam pura, sebagai penghargaan atas sifat yang sangat berbakti kepada suami, mengikuti Rasulullah yang dimakamkan di Madinah tidak jauh dari makam putrinya.
Keutamaan Puteri Ong Tien Nio adalah ia seorang wanita yang cantik, kaya, keturunan raja, berperangai baik, cerdas, ramah, serta pandai mengurus suami (berbakti kepada suami)[13]


[1] Brosur Pendaftaran, (Arsip Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirbonan)
[2] Lanlan Ramlan, Tayub Cirebonan Artefak budaya  masyarakat Priyayi,(Bandung: Sunan Ambu Press- STSI Bandung, 2008), h, 37-38.
[3] Ibid, h, 39-40
[4] Puji Santosa, Ancangan Semiotika Dan Pengkajian Susastra, (Bandung: CV. Angkasa, 2013), h, 24
[5] Yudiayani, Panggung Tetaer Dunia,(Yogyakarta: Pustaka Ghondo Suli, 2002), h, 350-351
[6] Ibid, 354-355
[7] Cut Video Drama Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio (Arsip Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan)
[8]Asep Saeful Muhatdi dan Agus Ahmad Safei, Metode Penelitian Dakwah,(Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), h, 27.
[10] Habib Syarief Nuhammad Alaydarus, 135 Shalawat Nabi,Cetakan ke VI (Bandung: Pustaka Hidayah, 2012), h, 19
[11] Al Qur’an dan Terjemah Departemen Agama,( Semarang: CV. Asy-Syfa, 2001),  h, 936
[12] Ibid, h, 941.
[13] Dyah Komala Laksmiwati, Putri Ong Tin Nio, (Sleman: CV Budi Utama, 2013), h, 72.

Komentar