BAB III
GAMBARAN UMUM DRAMA
TARI KOLOSAL PUTERI ONG TIEN NIO SANGGAR SENI SEKAR PANDAN KERATON KACIREBONAN
A. Sekilas Tentang Drama Tari Kolasal Ong Tien
Nio
Dalam Drama
Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio merupakan garapan yang di sponsori oleh
kesultanan kasepuhan Cirebon dan Yayasan Prima Ardiantana.
Drama Tari Puteri Ong Tien Nio yang di selenggarakan di
Panggung Budaya Gua Sunyaragi merupakan pentas ke dua setelah di Museum Tekstil
Jl. K.S. Tubun, Petamburan, Jakarta dalam rangka Pekan Budaya Cirebon pada
tanggal 26 September 2011, namun pada garapan kali ini, sutradara drama tari
diselenggarakan secara besar-besaran (kolosal) dengan melibatkan 300
pemain dan yang ketiga bertempat di Keraton Kacirebonan.
Drama Tari Kolosal di selenggarakan bersamaan dengan
menyambut tahun baru Hijriah 1433 dan HUT Hari Jadi Kota Cirebon.
Dalam acara drama tari kolosal diselenggarakan dengan
Helaran Barong Sai, sambutan Bpk. Drh. H. R. Bambang Irianto, BA (Ketua
Panitia), Pangeran Arief Natadiningrat S.E. (Sultan Sepuh XIV Kesepuhan),
dibuka dengan pementasan Tari Rampak Topeng Kelana 5 Gaya serta Drama Tari
Kolosal Puteri Ong Tien Nio.[1]
Naskah Drama Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio sendiri
merupakan saduran dari naskah-naskah sejarah Cirebon, karena banyak sekali
simpang – siur terjadi dalam beberapa naskah yang menceritakan Puteri Ong Tien
Nio, antara lain; Naskah Negara Kertbhumi, Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari
dan Naskah Sedjarah Cirebon.[2]
1. Sinopsis Drama Tari Kolasal Puteri Ong Tien
Nio
Drama terdiri dari
empat babak dan delapan halaman, pada Babak I menceritakan pada abad ke 15,
Cirebon telah berdaulat penuh sebagai Negara bercorak islam di tanah jawa
dengan tokoh sentral Syekh Syarif Hidayatullah dengan gelar “Kanjeng Sinuhun Jatipurba Panetep
Panatagama Auliya Allah Qutubillah Khalifatur Rasulullah SAW,” nama besar
Syekh Syarif Hidayatullah terdengar hingga ke Negeri Cina. Sehingga pada tahun
1478 M, ketika Syekh Syarif Hidayatullah datang untuk berdakwah Islam di Kerajaan
Tar Tar, hampir seluruh rakyat di negeri tersebut menyambut hangat dan
bersahabat kedatangan beliau.
Raja Ong The atau
Kaisar Hong Gie mendengar ketenaran Syekh Syarif Hidayatullah sebagai ahli
agama dan pengobatan di Negeri Tar Tar mengundang melalui utusannya datang ke Negeri
Cina.
Di dalam ruangan
istana, sang kaisar memanggil puterinya Ong Tien, dengan menyembunyikan bokor
dibalik balutan busananya maka tampak terlihat jelas Puteri Ong Tien Nio
seperti layaknya wanita yang tengah hamil, kemudian sang kaisar mengajukan
pertanyaan kepada Syekh Syarif Hidayatullah perihal kondisi perut puterinya
tersebut, maka dengan suara tegas, Syekh Syarif Hidayatullah menjawab
pertanyaan kaisar bahwa Puteri Ong Tien Nio saat ini tangah hamil.
Mendengar reaksi Kaisar
Ong The dan para pembesar kerajaan menertawakan dirinya, maka Syekh Syarif
Hidayatullah mohon pamit untuk meneruskan perjalanan pulang ke Tanah Jawa.
Allah Azza Wa Jallah,
Maha Besar, diluar nalar manusia ternyata bokor yang berada di balik busana
menghilang dan Puteri Ong Tien Nio membesar layaknya hamil.
Babak II meneceritakan
setelah kepergian Syekh Syarif Hidayatullah dari Negeri Cina, perasaan Puteri
Ong Tien Nio resah dan gelisah selalu teringat dan tersayang, sosok Syekh
Syarif Hidayatullah, dan karena memendam rasa cinta yang mendalam akhirnya
puteri jatuh sakit.
Kaisar Ong The cemas
melihat kondisi puteri tercinta. Akhirnya sang kaisar menugaskan Perdana
Menteri Sampho Talang, Panglima Jendral Lie Gwan Chun dan Nahkoda Lie Gwan Hin
beserta pasukan untuk mendampingi Puteri Ong Tien Nio pergi berlayar ke tanah
jawa mencari keberadaan Syekh Syarif Hidayatullah.
Setibanya di Tanah
Jawa, rombongan Puteri Ong Tien Nio bertemu dengan pasukan Adipati Keling,
sementara Syekh Syarif Hidayatullah berada di daerah Luragung, maka rombongan
dari Negeri Cina itu melanjutkan perjalananya dengan dikawal pasukan Adipati
Keling menuju ke Luragung.
Luragung yang pada saat
itu dipimpin oleh Ki Gede Kemuning seorang tokoh yang tangguh berilmu
adiluhung, sehingga pada saat Syekh Syarif Hidayatullah serta Pangeran Cakrabuana
bertandang untuk mensyiarkan agama Islam di daerah itu, dengan lantang dan
menantang Ki Gede Kemuning menolak tunduk pada kekuasaan Cirebon, maka terjadilah
perang adu kesaktian diantara mereka dan pada akhirnya Ki Gede Kemuning memeluk
Islam, diikuti seluruh penduduk pedukuhan Luragung setelah mengakui kedigjayaan
Pangeran Cakrabuana dengan senjata golok
cabang dan pusaka batok bulu.
Pada saat bersamaan
rombongan Puteri Ong Tien Nio dengan dikawal pasukan Adipati Keling tiba di
daerah Luragung, kemudian dengan kesaksian Pangeran Cakrabuana, Puteri Ong Tien
Nio, Ki Gede Kemuning serta seluruh panduduk pedukuhan Luragung mengucapkan dua
kalimat syahadat sebagai pertanda keislamanya.
Pada tahun 1481 M,
Cinta Puteri Ong Tien Nio dan Syekh Syarif Hidayatullah akhirnya disucikan oleh
prosesi akad nikah di Luragung.
Puteri Ong Tien Nio dikaruniai
seorang putera yang diberi nama Pangeran Kuningan, begitupula dengan Isteri Ki
Gede Kemuning yang di anugerahi anak laki-laki bernama Pangeran Arya Kemuning.
Takdir adalah hak Allah
SWT. begitupun dengan Pangeran Kuningan yang tidak berumur panjang. Dampak dari
kepergian anak tercintanya mengakibatkan Puteri Ong Tien Nio dilanda kesedihan
yang mendalam.
Mengetahui isterinya
larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka Syekh Syarif Hidayatullah
memohon kepada Ki Gede Kemuning untuk mengangkat Pangeran Arya Kemuning sebagai
puteranya. Permohonan itu diamini oleh Ki Gede Kemuning hingga Pangeran Arya
Kemuning dianggap anak oleh Puteri Ong Tien Nio.
Sebagai ucapan tanda
terima kasih, Puteri Ong Tien Nio memberikan cinderamata sebuah bokor kuningan
Ki Gede Kemuning.
Kisah perjalanan
bahagia Puteri Ong Tien Nio dan Syekh Syarif Hidayatullah tidak berlangsung
lama. Setelah 4 tahun menjalani bahtera rumah tangga, Puteri Ong Tien Nio jatuh
sakit hingga merengut nyawanya.
Sepeninggal Puteri Ong
Tien Nio, kabut nestapa melingkari Syekh Syarif Hidayatullah. Beliau meminta,
kelak diakhir hayatnya ingin dikebumikan disamping makam Puteri Ong Tien Nio.[3]
2. Profil Sutradara
Raden Heri Komarahadi,
Sutradara, lahir di Cirebon, 5 Februari 1970, memulai berkesenian pada tahun
80-an sampai sekarang masih aktif dan menjadi pimpinan Sanggar Seni Sekar
Pandan Keraton Kacirebonan dari tahun 1992 – sekarang. Ia merupakan lulusan SMA
Widya Utama Cirebon.
Raden Heri Komarahadi,
biasa di panggil (Bang Heri), beristeri Ibu Sri
Kamelia (Mba Meng) mempunyai dua orang anak. Bertempat tinggal di
Keraton Kacirebonan RT: 04 RW: 02 Kelurahan Pulosaren Kacamatan Pekalipan.
Selain menyutradarai Drama
Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio, ia juga pernah menyutradarai beberapa
pementasan, pemain wayang wong, pelatih tari, sintren, gamelan dan lain-lain.[4]
3. Profil Ide Cerita
Drh. Syah Komala
Laksamiwati. Lahir di Cirebon, 13 desenber 1979. Dokter hewan lulusan UGM tahun
2004 ini senang bidang pelestarian budaya Cirebon. Kegiatan saat ini selain
praktisi, Dan PNS di Dinas Kelautan, Perikanan Pertenakan Dan Pertanian Kota
Cirebon, juga sebagai Pengurus Pondok Pesantren Pesambangan Jati, Pusat
Konservasi Naskah Klasik Cirebon dan aktif sebagai Sekertaris Perhimpunan
Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat III. Alamat : Jl. Geriliyawan No. 4
Kelurahan Drajat Kecamatan Kesambi Kota Cirebon.[5]
4. Profil Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton
Kacirebonan.
Sanggar
Seni Sekar Pandan berdiri pada tahun 1992. Di dirikan oleh putera-puteri daerah
Keraton Kacirebonan dengan kegiatan kesenian tradisional Cirebon. Sanggar Seni
Sekar Pandan berada di wiliyah kompek Keraton Kacirebonan (rumah Bang Heri),
Sanggar Seni Sekar Pandan membuka kerjasama dengan sekolah-sekolah TK, SD, SMP,
SMA/SMK, PT Se-Kota Cirebon dalam kegiatan pengembangan kesenian tradisional
Cirebon, juga berkerjasama dengan JIS (Jakarta International School),
Sanggar
Seni Sekar Pandan dalam pengembangan kesenian tradisional mengadakan sekolah
tari dan pentas bulanan setiap malam
minggu pertama awal bulan, dalam pelatihannya antara lain;
·
Tari Puteri Binangkit
·
Tari Topeng Panji
·
Tari Topeng Samba
·
Tari Topeng Tumenggung
·
Tari Topeng Rumyang
·
Tari Topeng Klana
·
Tari Topeng Beling
Seni lainya. :
·
Seni Suara
·
Seni Rupa
·
Seni Musik
·
Silat
·
Sintren
Dan Sanggar Seni Sekar Pandan telah mendukung
apresiasi dalam acara :
·
Festival Keraton Nasional I-VII
·
Karnaval Keprajuritan di TMII Jakarta
·
Festival ALAKARTA keliling jawa-bali
·
Apresiasi kedutaan Brazil
Prestasi Sanggar Seni Sekar Pandan :
·
Mendapatkan V terbaik Apresiasi Seni Se-Jawa
Barat di Sasana Budaya Bandung membawakan kesenian Topeng Beling
·
Mendapatkan Display Terbaik Se-Nusantara dalam
acara Karnaval Keprajuritan Nusantara di Jakarta (TMII)
·
Juara favorit dalam acara Karnaval Keprajuritan
·
Juara Favorit Kirab Kemilau Nusantara di Bandung
membawakan kesenian Wayang Wong
·
Juara I Parade Bedug Sampoerna Hijau
·
Sebagai peserta kesenian di (TMII)
·
Juara I Se-Jawa Barat seni helaran di Bandung
dalam acara Kemilau Nusantara.[6]
5.
Data Personil
Puteri Ong Tien Nio Nio pada pagelaran Drama Tari Kolosal Puteri Ong Tin di
Panggung Budaya Sunyaragi.
Penanggung Jawab Umum
|
:
|
Sultan Arief Natadiningrat, SE
|
Penanggung jawab pagelaran
|
:
|
Sultan Abdulgani Natadiningrat, SE
|
Penanggung Jawab Produksi
|
:
|
Drh. H.R. Bambang Irianto, BA
|
Stage Manager
|
:
|
Heri Isa Azhari
Aray, Boby, Teguh
|
Humas
|
:
|
Sodikin
|
Pembantu Umum
|
:
|
Giar
Heri Isa Azhari
Iyan
|
Pembawa Acara
|
:
|
Regina
Bang Tino
|
Tim Kreatif
Ide Cerita
|
:
|
Drh. Dyah Komala Laksmiwati
|
Sutraadara
|
:
|
Elang Heri Komarahadi
|
Penata Cahaya
|
:
|
Mas Surip
|
Penata Musik
|
:
|
Elang Sony Ringgo Kresnajaya
|
Penata Tari
|
:
|
Tarminih S.Pd.I
Sandy
Tommy Uli
Putri Ayuningtias
Ninis
|
Penata Make Up
|
:
|
Camelia
|
Penata Kostum
|
:
|
Fitri Kenari
Rd. Rahmayanti
|
Penata Artistik
|
:
|
Elang Iyus Samaun
Elang Nurrahmat
|
Soundman
|
:
|
E. Sony Ringgo Kresnajaya
|
Narator
|
:
|
Dino Syahrudin
|
Puteri Ong Tien Nio
|
:
|
Putri Ayuningtyas, S.Kom
|
Sunan Gunung Jati
|
:
|
Dede Supriyatna, S.Sn
|
Raja Cina
|
:
|
Bpk. Yahya
|
Dipati Keling
|
:
|
Tomi Uli Durhayanto
|
Sampo Talang
|
:
|
Sandi Sianto
|
Panglima
|
:
|
Bpk. Yohanes
|
Nakhoda
|
:
|
Bpk Dirja
|
Mbah Kuwu Cirebon
|
:
|
F. Imamudin
|
Ki Gede Kemuning
|
:
|
Inu Kertapati
|
Isteri Ke Gede Kemuning
|
:
|
Mutia
|
Biksu
|
:
|
Yanto Agadama
|
Bodor I
|
:
|
Bang Heri
|
Bodor II
|
:
|
Panjul
|
Narator
|
:
|
Dino Syahrudin
|
Sinden
|
:
|
Titi
|
Dalang
|
:
|
Citra
|
Dalang Topeng Klana
|
||
Dalang Topeng Losari
|
:
|
Nani
|
Dalang Topeng Slangit
|
:
|
Inu Kertapatih
|
Dalang Topeng Gegesik
|
:
|
Baedah
|
Dalang Topeng Palimanan
|
:
|
Nani Kadmini
|
Dalang Topeng Indramayu
|
:
|
Erli
|
Rampak Topeng Kelana
|
||
Wulandarai, Via, Yolanda, Ajeng, Gesi, Ayu,
Rinanda, Salsa, Lilis N, Lilis, Harna, Carnantia, Ute, Iyang, Mariam, Wiwik,
Agnes, Vera, Icha, Vina Yasmin, Puput, N. Lidya, Dea, Hindun, Nurin, Putri
Sarah, Desi, Beta, Farah, Galih, R. Lidya, Heni Noisi.
|
||
Penari Bokor dan Dayang
|
||
Neng, Sonia, Kiki, Vidyana, Lusi, Lia, Nadya, Rima,
Maesa, Widya, Ayu, Shanti Bunga, Intan, Lisda, Bela, Ika, R. Dela, Tri,
Dinda, Dara, Isda
|
||
Penari Liong
|
||
Evan Fahmi M, Firman F, Abdul Muis, Duta Surya,
Samsudin, Ahmad Habib, Muhammad Nur S, Edi Setyono, Ahmad Husen.
|
||
Penari Sudu, Prajurit dan Rakyat
|
||
Arif Felani,Khaeryl Fatihin, Agus Selamet, Basri,
Astori, Ahdi, Suratno, Kadi, Rudi, Ifan.
|
||
Penari Tandu, Rakyat dan Pegawai
|
||
Parikin, Suparman, Bahrudin, Abdul Hanan
|
||
Rakyat Cina, Pesisir dan
Bidadari
|
||
Sarrah Safira, Dea Putri, Ersa Pertiwi, Hana Hania,
Galih Dewi, Mutia, Yufa, Shella, Dila, Lusi, Vebina
|
||
Penari
Bendera, Umbul-Umbul, Silat Kyai dan Obor
|
||
Priyadi, Desi Setiawan, M. Agus Irfan, Bayu Angga,
M. Ismail, Duta, Kariman Wijaya, Dedi Pristianto, Sopyan Setiawan
|
||
Genjring,
Gendang Pencak dan Tambur
|
||
Pak Hasta, Pak Suali dkk
|
||
Wirog dan
Rakyat
|
||
Ibrahin, Suhendra, Rahmat Sugandi, Abdul Hanif,
Suharto, Andri, Isbulah
|
||
Penari Rudat
dan Batik
|
||
Ninis, Agi, Novita, Rosi, Mala, Nurdiah, Desi,
Deli, Agnes, Dinda
|
||
Nayaga
|
||
Ringgo, Purba, Juan, Eko, Gondrong, Jajat, Atung,
Yudi, Epeng, Mul Bulu, Iid, Mamat, Garong
|
||
Pendukung
Acara
|
||
Kesultanan Kesepuhan Cirebon
Yayasan Budaya Sunyaragi
Yayasan Prima Ardian Tana
Keraton Kacirebonan
Keraton Kanoman Cirebon
Perkumpulan Sanggar Seni Budaya Cirebon
Paramanusa
Ciayumajakuning
|
||
[1] Video drama tari
kolosal puteri ong tien nio, Arsip Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton
Kacirebonan
[2] Wawancara pribadi
dengan sutradara drama tari kolosal puteri ong tien nio, Raden Heri Komarahadi,
Cirebon, 17 Oktober 2013
[3]Naskah Drama Kolosal Puteri Ong Tien Nio, (Arsip
Sanggar Seni Sekar Pandan Keraton Kacirebonan).
[4] Wawancara pribadi
dengan sutradara Drama Tari Kolosal Puteri Ong Tien Nio, Raden Heri Komarahadi,
Cirebon, 17 Oktober 2013
Komentar
Posting Komentar