BAB
II
A.
Tinjauan Umum Dakwah
1.
Pengertian Dakwah
Islam adalah agama terakhir yang
diturunkan Allah keapada Nabi Muhammad SAW, untuk membina umat manusia supaya
berpegang teguh kepada ajaran-ajaran yang benar dan diridhoi Allah serta untuk
mencapai kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai
wahyu terakhir, Islam merupakan agama penyempurna dari keberadaan agama-agama
sebelumnya.
Perkembangan agama Islam yang
disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW, di Mekah kemudian Madinah, dan kemudian
berkembang ke seluruh penjuru dunia tidak lain adalah karena adanya proses
dakwah yang dilakukan para tokoh Islam.
Secara etimologis, kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab Da’a-Yad’u- Da’watan,, yang berarti : ajakan, seruan,
panggilan, atau undangan.
Secara etismologis, dakwah adalah
mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai perintah
Tuhan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat[1]
2.
Rukun-Rukun Dakwah
a.
Da’i (Pelaku
Dakwah)
Yang dimaksud da’i adalah orang yang
melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan yang baik
secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga.
Kata da’i ini secara umum sering disebut
dengan mubaligh (orang
yang menyempurnakan ajaran Islam) namun sebenarnya sebutan ini konotasinya
sangat sempit karena masyarakat umum cenderung mengartikan sebagai orang yang
menyampaikan ajaran Islam melalui lisan seperti penceramah agama, khatib (orang yang
berkhutbah), dan sebagainya.
Seorang
da’i harus memahami hakekat da’i dan juga apa persyaratanya, apa strategi, dan
persiapan dan sikap seorang da’i, mengetahui hal itu adalah penting, Allah
SWT. Berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 45-46 :
$pkr'¯»t
ÓÉ<¨Z9$#
!$¯RÎ) y7»oYù=yör&
#YÎg»x© #ZÅe³t6ãBur
#\ÉtRur ÇÍÎÈ $·Ïã#yur n<Î)
«!$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ %[`#uÅ ur #ZÏYB ÇÍÏÈ
Artinya : Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi
saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru
kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.[2]
b.
Mad’u (Mitra Dakwah atau Penerima Dakwah)
Unsur dakwah yang kedua adalah mad’u, yaitu manusia yang menjadi sasaran
dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai
kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau dengan kata lain
manusia secara keseluruhan. Sesuai dengan firman Allah QS. Saba’ ayat 28:
!$tBur y7»oYù=yör&
wÎ) Zp©ù!$2
Ĩ$¨Y=Ïj9
#Zϱo0 #\ÉtRur £`Å3»s9ur
usYò2r& Ĩ$¨Z9$#
w cqßJn=ôèt ÇËÑÈ
Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[3]
c.
Maddah (Materi Dakwah)
Unsur lain selalu ada dalam proses dakwah maddah atau materi dakwah. Ajaran Islam yang
dijadikan maddah dakwah itu
pada garis besarnya dapat di kelompokkan sebagai berikut:
·
Akidah, yang meliputi:
Ø
Iman
kepada Allah
Ø
Iman
kepada Malaikat-Nya
Ø
Iman
kepada kitab-kitab-Nya
Ø
Iman
kepada rasul-rasul-Nya
Ø
Iman
kepada hari akhir
Ø
Iman
kepada qadha-qadhar
·
Syari’ah, meliputi :
Ø
Ibadah
(dalam arti khas)
Ø
Muamallah
·
Akhlaq, meliputi :
Ø
Akhlaq
terhadap khaliq
Ø
Akhlaq
terhadap makhluk
d.
Wasilah (Media Dakwah)
Unsur dakwah yang ke empat adalah wasilah
(media dakwah), yaitu alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi
dakwah (ajaran Islam) kepada mad’u.
Asal
mula kata wasilah adalah sesuatu yang bias mengantarkan pada tujuan. Dan yang
dimaksud dengan wasilah atau sarana dakwah adalah segala sesuatu yang dapat
membantu seorang da’i dalam menyampaikan dakwahnya
e.
Thariqah (Metode Dakwah)
Metode
dakwah adalah cara – cara yang
dilakukan da’i untuk menyampaikan dakwahnya, antara lain :
· Dakwah
bil-lisan adalah dakwah yang
dilaksanakan melalui lisan, yang dilakukan antara lain dengan ceramah, khutbah,
pidato, diskusi, nasihat, dan lain-lain
· Dakwah
bil-hal adalah dakwah dengan
perbuatan nyata yang meliputi keteladanan. Misalnya dengan tindakan amal nyata
yang dari karya nyata tersebut hasilnya nisa dirasakan secara kongkret oleh
masyarakat, seperti pembangunan rumah
sakit, akhlaqul karimah.
· Dakwah
bil qalam adalah dakwah melaui
tulisan yang dilakukan dengan keahlian menulis di media massa seperti koran,
surat, majalah, naskah maupun internet.[4]
B.
Tinjauan Umum Drama Tari
- Pengertian Drama Tari
Drama tari ialah
gabungan antara seni drama dan seni tari. Drama atau cerita yang di sajikan dalam bantuk tarian, biasanya diiringi
oleh musik (gamelan) dan kolosal berarti yang dibuat secara besar besaran.
Drama tari adalah sebuah tari dalam penyajianya menggunakan plot, alur
cerita, tema dan dilakukan secara kelompok. Drama tari rangkaian tari yang
disusun sedemikian rupa sehingga melukiskan kisah atau cerita, drama tari
berdialog baik prosa maupun skripsi dan ada juga tanpa dialog, maka menggunakan
tanda-tanda ekpresi muka atau mimik sebagai alat untuk berbicara, adapun cerita
yang sangat digemari adalah cerita ramayana, mahabrata, panji atau babad[5]
Kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti
bertindak atau berbuat dan drame yang berasal dari kata prancis yang diambil oleh diderot dan beaummarchaid
untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau
dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu
peristiwa penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga
dianggap sejak era mesir kuno (4000-1580 SM), Sebelum era yunani kuno (800-277
SM).[6]
Drama adalah satu bentuk
seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya.akan tetapi
percakapan ataupun dialog itu sendiri bisa jadi dipandang sebagai pengertian action.
Meskipun merupakan suatu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda
bentuk kesusastraan lainya. Novel, cerpen dan balada, masing-masing
menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog
dan narasi, dan merupakan karya cetak. Sebuah drama hanya terdiri dari atas
dialog; mungkin dada semacam penjelasan, tapi hanya berisi petunjuk pementasan
untuk dijadikan pedoman bagi sutradara.[7]
Sebagai sarana
komunikasi. Tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Berbagai acara tari
dapat berperanfungsi menurut kepentinganya. Masyarakat membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan
estetis, melainkan dibutuhkan juga sebagai sarana upacara yang berhubungan
dengan agama dan adat, maupun keperluan tertentu lain.[8]
- Sejarah dan Perkembangan Dramatari
Dramtari terdiri dari dua kata drama dan tari keduanya secara rinci
mempunyai sejarah dan perkambangan masing-masing dan dramatari sendiri
merupakan seni kontemporer.
Kata drama bekaitan erat dengan teater, Kasim Ahmad dalam bukunya
mengenal teater tradisional di Indonesia (2006), mengatakan sejarah teater
tradisional di Indonesia di mulai sejak zaman sebelum hindu pada zaman itu ada
tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater banyak digunakan untuk mendukung upacara
ritual.[9]
Dan proses terjadinya atau munculnya teater tradisional sangat
bervariasi dari daerah satu dengan yang lainya. Berikut contoh teater
tradisional yang ada di daerah-daerah di Indonesia
·
Wayang
·
Wayang
Wong (Wayang Orang)
·
Lenong
·
Longser
·
Ketoprak
Tari sendiri pada
perkembanganya tari sering kita lihat dalam berbagai acara baik melalui media
televisi (TV), maupun berbagai kegiatan lain seperti pada acara khusus berupa
pergelaran tari, paket acara tontonan yang diselenggarakan misalnya oleh Taman
Mini Indonesia Indah (TMII), paket acara yang digelar oleh Pasar Seni Ancol,
dan acara tontonan dalam kegaiatan kenegaraan maupun acara-acara yang berkaitan
dengan keagamaan, perkawinan maupun pesta lain yang berhubungan dengan adat.
Dramatari merupakan kekaryaan
seni, temuanya berupa inovasi-inovasi terhadap berbagai jenis seni yang sudah
ada dengan cara melakukan reinterpretasi, dan penciptaan kekaryaan baru.[10]
Kalau kita melihat tari yang ada di Indonesia,khususnya
Jawa, kita dapat melihat perbedaan jenis-jenis tari yang ada. adapun
jenis-jenis tari itu adalah :
·
Jenis
tari menurut koreografi
·
Jenis
tari menurut fungsi
·
Jenis
tari menurut isi atau temanya[11]
- Jenis tari menurut koreografi
Istilah koreografi adalah suatu istilah yang digunakan untuk
penyusun tari. Sedang untuk menyebut orang yang menyusun tari adalah
koreografer. Tari menurut koreografi dapat dibedakan menjadi :
·
Tari
Rakyat
·
Tari
Klasik
·
Tari
Kreasi Baru dan Tari Modern
- Jenis Tari Menurut Fungsinya
Jika dilihat dari fungsinya tari-tarian di Indonesia dapat
dibedakan menjadi:
·
Tari
Upacara
·
Tari
Hiburan
·
Tari
pertunjukan
- Jenis Tari Menurut Tema Atau Isinya
Tari-tari yang berada di Indonesia apabila dilihat
dari isi atau temanya dapat dibedakan
menjadi :
·
Tari
Pantomim
·
Tari
Erotik
·
Tari
Kepahlawanan
·
Dramatari
- Asas Kesatuan Pertunjukan
Aristoteles (384-322 SM)
menggariskan tiga asas kesatuan dalam pertunjukan
drama, yaitu asas kesatuan waktu, tempat, dan lakon. Karena peristiwa-peristiwa
yang ditampilkan di atas pentas
menggambarkan kejadian-kejadian yang berlangsung dalam
jangka waktu yang lama dan selesai dalam waktu yang
singkat maka harus jelas karakteristiknya, bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir[12].
- Tema
Tema ada yang menyebutnya
sebagai premis, root idea, thought,
aim, central idea, goal, driving force dan sebagainya.
Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang
secara tersirat. Akan tetapi, tema harus dirumuskan dengan jelas, karena tema
merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Ketika tema
tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas
apa yang hendak disampaikan
- Plot
Plot (Alur) dalam
pertunjukan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan
pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama
keseluruhan permainan. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau
berlangsung terus tanpa pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam
lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan
susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung.
- Setting
Membicarakan tentang setting dalam mengkaji
lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas, karena memang bukan
persoalan scenery yang
hendak dibahas. Pertanyaan untuk setting
atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Pertanyaan
tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk
mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya.
·
Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar
peristiwa lakon itu terjadi. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang
menjadi hasil rekaan penulis lakon.
·
Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar
belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi.
·
Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan
itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi.
- Unsur Pembentuk pertunjukan
Dalam khasanah teater dewasa ini dapat disimpulkan unsur utama teater
adalah naskah lakon, sutradara, pemain, dan penonton. Tanpa keempat
unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk mendukung unsur
pokok tersebut diperlukan unsur tata artistik yang memberikan keindahan dan
mempertegas makna lakon yang dipentaskan
- Naskah Lakon
Salah satu ciri teater modern adalah
digunakannya naskah lakon yang merupakan bentuk tertulis dari cerita drama yang
baru akan menjadi karya teater setelah divisualisasikan kedalam pementasan.
Naskah Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata.
Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya seni dari
media bahasa kata ke media bahasa pentas. Dalam visualisasi tersebut karya
sastra kemudian berubah esensinya menjadi karya teater. Pada saat transformasi
inilah karya sastra bersinggungan dengan komponen-komponen teater, yaitu sutradara,
pemain, dan tata artistik.
- Sutradara
Di Indonesia penanggung jawab proses
transformasi naskah lakon ke bentuk pemanggungan adalah sutradara yang
merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah pertunjukan. Baik buruknya
pementasan teater sangat ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun unsur–unsur
lainnya juga berperan tetapi masih berada di bawah kewenangan sutradara.
- Pemain
Untuk mentransformasikan naskah di atas
panggung dibutuhkan pemain yang mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon
menjadi sosok yang nyata. Pemain adalah alat untuk memeragakan tokoh. Tetapi
bukan sekedar alat yang harus tunduk kepada naskah. Pemain mempunyai wewenang
membuat refleksi dari naskah melalui dirinya. Agar bisa merefleksikan tokoh
menjadi sesuatu yang hidup, pemain dituntut menguasai aspek-aspek pemeranan
yang dilatihkan secara khusus, yaitu jasmani (tubuh/fisik), rohani
(jiwa/emosi), dan intelektual.
- Penonton
Tujuan terakhir suatu pementasan lakon
adalah penonton. Respon penonton atas lakon akan menjadi suatu respons
melingkar, antara penonton dengan pementasan. Banyak sutradara yang kurang
memperhatikan penonton dan menganggapnya sebagai kelompok konsumsi yang bisa
menerima begitu saja apa yang disuguhkan sehingga jika terjadi suatu kegagalan
dalam pementasan penonton dianggap sebagai penyebabnya karena mereka tidak
mengerti atau kurang terdidik untuk memahami sebuah pementasan. yang
mendukungnya.
- Artistik
Unsur artistik disini meliputi tata
panggung , tata busana, tata cahaya, tata rias, tata suara, tata musik yang dapat
membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan. Unsur-unsur artistik
menjadi lebih berarti apabila sutradara dan penata artistic mampu memberi makna
kepada bagian-bagian tersebut sehingga unsurunsur tersebut tidak hanya sebagai
bagian yang menempel atau mendukung, tetapi lebih dari itu merupakan kesatuan
yang utuh dari sebuah pementasan.
Tata panggung adalah pengaturan
pemandangan di panggung selama pementasan berlangsung. Tujuannya tidak sekedar
supaya permainan bisa dilihat penonton tetapi juga menghidupkan pemeranan dan
suasana panggung.
Tata cahaya atau lampu adalah
pengaturan pencahayaan di daerah sekitar panggung yang fungsinya untuk
menghidupkan permainan dan dan suasana lakon yang dibawakan, sehingga
menimbulkan suasana istimewa.
Tata musik adalah pengaturan musik yang
mengiringi pementasan yang berguna untuk memberi penekanan pada suasana
permainan dan mengiringi pergantian babak dan adegan.
Tata suara adalah pengaturan keluaran
suara yang dihasilkan dari berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor,
efek suasana, dan musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan harmoni.
Tata rias dan tata busana adalah
pengaturan rias dan busana yang dikenakan pemain. Gunanya untuk menonjolkan
watak peran yang dimainkan, dan bentuk fisik pemain bisa terlihat jelas
penonton.
- Tinjauan Umum Kisah Puteri Ong Tien Nio
Drama Tari Kolasal Puteri Ong Tien Nio merupakan saduran dari 3 naskah
antara laian naskah Negara Kertabhumi, Carita Puwaka Caruban Nagari dan Naskah
Sedjrarah Tjirebon akan di terangkan dibawah ini.
1.
Puteri Ong Tien Nio berdasarkan Naskah Negara
kertabhumi
Naskah ini merupakan naskah asli dari turunan
Naskah Carita Purwaka Caruban Nagarai
(CPCN) yang ditulis oleh Pengeran Arya Cirebon, dimana naskah CPCN adalah
naskah yang di akui oleh banyak ahli sejarah. Naskah Negara Kertabhumi adalah
naskah sekunder yang usianya paling tua diantara naskah-naskah yang memuat Puteri
Ong Tien Nio.[13]
Dalam naskah Negara Kertabhumi, terdapat
penggalan cerita mengenai Puteri Ong Tien Nio. Kisah itu tertuang sebagai
berikut :
16
20
5
10
15
20
5
10
20
|
Caritanakna susuhunan jati
ma-
stri lawan Puterid nira
pangeran ca-
krabuana ya ta nay
pakungwa-
ti/ juga susuhunan jati ma
stri lawan purid cina ong
ti
n nio ya ta lianyo
n tin ngaran nira weruh/ I
pasang-
ganan nira nanak jalu
saasiki kang angemassi ri kala hanyar miji-
I ing luragung dukuh/ sang
ayu mana
ngis duka/ matang yan sang
ayu ma-
ngarpakanak raden kemuning
anak i-
ra ki gede ageng luragung
ikang hanyar
mijil I shedeng ira sang
ayu ma-
weh bokor kuningan ring ki
a-
geng tumuli/ ika bokor ga-
wan ira keneng cina
nagari/ hana
ta sinanggurit ing bokor
ika
sang nagabraja lawan
ngaran hong gi maharaja nunggang jaran sira ming wangsa
nya/ satkan nira sang ayu
ngejawa
mahawan prahwa bantelleo
wasta-
nya lawan patang desa
sakweh ira sapricaranya ikang dlaha suparwa
mekul agama rasul kang
saparwa aga-
ma budha/ ikang sang ayu
den i-
ringaken de ning senopati
li dawn cang lawan nahkoda prahwa li gwan hin nga-
ran nira/ kang a(ange)massi ing giri kumbang
sira takoe asal ing
nahkoda/
malah wang pasanak ira ki
dampu sa-
king cempa nagari asal
ira/ tumu-
luy kaula bala cina/ kang
huwu-
s mekul agama sarul sira
cina-
ndi’ng giri ngamparan jati
jejer ma-
kabehanya sabala nira/ i-
ka prahwa bantalleo mandeg
te-
keng muharajati mulih
tumu-
li ring cina nagari mandeg
I Pale-
mbang/ raja cina
kalengleng duka ring
anak ira/ mapan sang ayu
ndata-
n mulih/ karana hawus
atmuntanga-
n lawan syarip hidayat ing
pasamba-
ngan dukuh/ sang ayu kadoyan
ni-
ra ika pethis/
makanimitta i-
ka sinebut ratu pethis/
lawa-
n Puterid cina kawala
patang warsa
henengakna ng katha
sareng/[14]
|
16
20
5
10
15
20
5
10
20
|
dikisahkan Susuhunan Jati
ber-
istri dengan Puterinya
pangeran ca-
krabuana, yaitu nyi mas
pakungwa-
ti, juga susuhunan jati
ber-
istri Puteri Cina Ong Tin
Nio atau li an yon
tin nama lainya. Dari
perka-
winannya mempunyai seorang
anak laki-laki
yang meninggal di dukuh
luragung
ketika baru lahir. Sang
ayu me-
nangis sedih karena sang
ayu meng-
angkat anak, raden
kamuning anaknya
ki ageng luragung yang
baru
lahir. Sedangkan sang ayu
kemudian mem-
beri bokor kuingan kepada
Ki A-
geng. Bokor itu di-
bawanya dar negeri cina
ada
ukiran bokor itu
sang raja naga dengan nama
maharaja hong gi yang menunggangu kudanya, dar wangsa ming. Sesampainya sang
ayu ke pulau jawa
menaiki perahu bantalloeo
nama
nya dengan empat puluh
semua
pengiringnya yang sebagian
memeluk agama rasul dan
sebagian aga-
ma budha. Sang ayu itu di
iringi oleh senopati li
gwan cang
dan nahkoda perahu li gwan
hin na-
manya yang meninggal
digunung kumbang//
Takce asalnya sang
nahkoda,
malah saudaranya ki dampu
da-
ri negeri cempa asalnya.
Kemu-
dian pasukan cina yang
telah
memeluk agama rasul diku-
burkan di gunung ngamparan
jati berjajar
semua pasukanya.
Perahu bantelleo berhenti
sam-
pai muharajati,
selanjutnya,
pulang ke negeri cina,
berhenti di Palem-
bang. Raja cina dirundung
duka
sebab anaknya sang ayu
tidak
pulang karena telah
menikah
dengan starif hidayatullah
di dukuh
pasembangan. Kesukaan sang
ayu
itu petis, oleh karena itu
disebut ratu petis. Dengan
Puteri cina hanya empat
tahun.
|
2.
Puteri Ong Tien Nio Bedasarkan Naskah Cerita
Purwaka Caruban Nagari
Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari adalah
naskah yang ditulis oleh Pangeran Arya Carbon, yang dijadikan rujukan para ahli
sejarah dalam menyusun sejarah Cirebon. Naskah ini berbahasa Jawa Cirebon dan
selesai ditulis pada tahun 1720 M.
5
10
/65/
5
10
/66/
5
10
/67/
|
// sawarsa tumuli
Ki Sarip atemu tangan lawan Puteri Ong
Tin ing warsaring Waladi saharsa patangatu
s wolungdasa pinunjul sji/ patang war-
tumuli ya angesami/ lawan sang
Puteri // manak siji kang ange-
masi ri kala anyar mijil ing luragung du-
kuh/ sang ayu menangis duka apan/ ka-
kinara sang ayu raden kemuning anaki
ra ki ageng luragung ingkang anyar mijili
sedengira// sang ayu maweh bokor
kuningan ring Ki Ageng tumuli/ ika
bokor gawanira sakeng negeri Cina/
hana ta sinaggurit ing bokor ika sang
nagabaja lawan ngaran Honggi Maharaja
nunggang kapal tuli(s) ika Ming wangsa// nika/
satekanira sang ayu ngejawa nunggang prahwa
banteleo wastanya lawan patangdesa
sahehira saparicaranya ikang mang-
ko saparwa mekul agami rasul kang sapar-
wa agami Budhaprawa// ika sang ayu
// de(n) iring deng sira senapati(h) Li-
Gwan-Cang lawan nahkoda Li Gwan Hi-
n ngaranira kang angemasi ing giri
kumbang/ marika tak-ceasal ing
sang
nakoda/ malah wwang pasanakira Ki
Dampu kan Cempa asali
ra// kang huwus mekul ing Rasu
l ya cinandi ing giri Ngamparan Ja
ti jejeran makabehanya sabal
anira/ ika prawhwa Banteleo ma-
ndeg tekang muhara jati tumu-
li ring Cina nagari mandeg ing Palembang
// sang Maharaja Cina kalengkeng ruka ring
nakira// mapan sang ayu datan mu-
lih karanira huwus atemu ta-
ngan lawan Ki Sari oing pasambangan dukuh
sang ayu kadoyanira pethis/ maka-
nimitta ika senebut// Ratu Pethis/[15]
|
Susuhunan Jati menikah dengan Puteri Cina,
Ong Tin pada tahun 1481 M. dengan Puteri ini berputra seorang laki-laki, tetapi
meninggal ketika baru saja dilahirkan. Kemudian sang Puteri mengangkat anak,
Arya Kemuning, Putra Ki Gede Kemuning yang ditukarnya dengan sebuah bokor Cina
yang bertuliskan Kaisar Hong Gie yang sedang menaiki kudanya.
Sang Puteri datang ke jawa dengan menaiki
kapal Bantaleo bersama panglima Li Gwan Cun dan nahkoda kapal Li Dwan Hin.
Rombongan Puteri Ong Tien Nio bertemu dengan Suan Gunung Jati di Gunung
Kumbang. Ia dan Pengikutnya kemudian masuk agama Islam sebagian lagi tetap
beragama Budha. Sang Puteri menetap di sana. Hal itu menyebabkan kesedian yang
amat bagi ayahnya, karena sang Puteri tidak pulang lagi kenegaranya. Sedangkan
patihnya yang dulu menyusul Sunan Gunung Jati terdampar di Palembang.
Karena sangat doyan petis, ia dijuluki Ratu
Petis. Pada tahun 1485 M Puteri Ong Tien Nio meninggal dunia[16]
3.
Puteri Ong Tien Nio Bedasarkan Naskah Sedjarah
Tjirebon
Menurut Naskah Sedjarah Tjirebon yang
tertulis ulang oleh Mahmud Rais diceritakan tentang Puteri Ong Tien Nio sebagai
berikut :
Syarif Hidyatullah berdakwah di Negeri Tar
Tar mensyiarkan agama Islam melalui sifat bijaksana dan pengobatan, terdengar
sampai ketelinga Kaisar Ong The, sehingga Kaisar mengutus seorang utusan untuk
mencari keberadaan Syarif Hidayatullah.
Ketika Syarif Hidayatullah sampai kekerajaan,
Kaisar Ong The mennguji kepanda’ian Syarif Hidyatullah dengan menyuruh Puteri
Ong Tien Nio memakai bokor diperutnya sehingga menyerupai orang hamil, dan
kaisar Ong the bertanya : Lihatlah perut puteriku Ratu Ong Tin Nio, Perutnya
besar, apakah itu penyakit atau sedang mengandung,? Kalau itu penyakit apa
obatnya, dan kalau iya mengandung, siapa yang berbuat? Tolong terangkan.”
Kamudian dijawab oleh Syarif Hidayatullah: “ Hai Raja Ong The, sesungguhnya
Puteri Ong The mengandung atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.” Kaisar marah atas
jawaban tersebut, dan syarif hidayatuulah pergi tanpa permisi, raja
memerintahkan perdana menterinya untuk mencari Syarif Hidayatullah, namun sudah
sampai ke tanah jawa.
Puteri Ong Tien Nio mengandung, Kisar Ong The
khawatir karena Puteri Ong Tien Nio sakit-sakitan karena kerinduannya pada
Syarif Hidayatullah.
Sementara pada saat yang bersamaan Syuarif hidayatuulh bermaksud
berdakwah ke Luragung, Kuningan. Di Kuningan terdapat pendekar sakti Ki Gede Kemuning bersama
murid-,muridnya, Syarif Hidayatullah bersama Sri Mangana terjadi adu kesaktian
Sri Mangan mengeluarkan golok cabang dan batok bulu, Ki Gede Kemuning takjub
melihat kesaktian dua benda pusaka tersebut dan ingin menjadi murid Syarif
Hidayatullah dan bersedia masuk Islam.
Ditempat lain Puteri Ong Tien Nio menyiapkan
3 perahu, 100 orang pria wanita, 50 pemuda dan dengan perabotan-perabotan
lengkap, setelah berbulan-bulan sampai di pantai Gunung Jati. Bertemu dengan
seorang keling dan mengutarakan niatan dan maksud tujuan ke tanah Cirebon, Adipati
Keling bersama rombongan Ong Tien Nio menyusul ke Lurahgung.
Puteri Ong Tien Nio tiba dan disambut Oleh
Syarif Hidayatullah, kemudian Ki Gede Kamuning berserta murid muridnya, Puteri
Ong Tien Nio beserta semua rombongan menyataan kesanggupanya masuk Islam,
kemudian rombongan Cina bersama Syarif Hidayatuulah membuat perjanjian agar
minta izin tinggal menetap dibawah Syarif Hidayatullah.
Syarif Hidayarullah dan Puteri Ong Tien Nio
menikah dan kemudian melahirkan namun yang dilahirkan bokor kuningan, kemudian
Syarif Hidayatullah berdo’a agar bokor kuningan tersebut menjadi seorang bayi,
bernama Pangeran Kuningan, kebetulan juga isteri Ki Gede Kemuning melahirkan
seorang laki-laki juga, akhirnya dititipkan ke Ki Gede Kemuning agar
mengasuhnya.
Puteri Ong Tien Nio berganti nama manjadi Nyi
Rara Sumanding dan pulang ke pesangrahan Ukir Sembung, sebagian besar rombongan
Cina menetap di Luragung, tidak lama
kemudian Puteri Ong Tien Nio menderita sakit dan wafat disana.
Masih banyak naskah-naskah yang menceritakan Puteri
Ong Tien Nio, diantaranya :
·
Naskah
Negara Kertabhumi
·
Naskah
Serat Catur Kanda
·
Naskah
Sejarah Lampahing Para Wali Kabeh
·
Naskah
Mertasingga
·
Naskah
Kuningan[17]
D.
Tinjauan Umum Tentang Siometik
1. Konsep
Siometik
Istilah semiotik sering digunakan bersama simiologi,
dalam kedua istilah tersebut persis sama, walaupun penggunaan salah satu dari
kedua istilah tersebut bisanya menunjukan pemikiran pemakainya perbedaan
istilah itu,” kata Masinambow, “ Menunjukan orientasi: yang pertama (semiologi) mengacu pada istilah
eropa yang bermula pada Ferdinand de Saussure (1857-1913), sedangkan (semiotika) pada tradisi Amerika yang
bermula pada Charles Sanders Pierce (1839-1914)”.[18]
Kata semiotika berasal dari bahasa yunani
semeion, yang berarti tanda. Maka semiotika berate ilmu tanda. Semiotika
berarti ilmu cabang yang berurusan dengan pengkajian tanda dan yang berhubungan
dengan tanda.
Ada dua tokoh penting dalam semiotika, yaitu
Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Pierce. Meski semiotika sendiri
sebenarnya sudah ada sejak masa sebelum mereka, tapi keduanya dianggap peletak
dasar konsep semiotika, selanjutnya sejumlah semiotisian, mengembangkan analisi
tanda ini berdasarkan yang telah diletakan oleh Saussure dan Pierce.
Barthes telah banyak menulis buku, yang
beberapa di antaranya, telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi
semiotika di Indonesia. Karya-karya pokok Barthes, antara lain; Le degree zero de I’ecriture atau
“Nol Drajat di bidang Menulis” (1953, diterjemahkan kedalam bahasa inggris, Writing Degree Zero, 1977), Kritik
Barthes atas kebudayaan borjuis sangat menonjol dalam buku ini, setahun
kemudian Barthes menerbitkan Michelet
(1954). Buku Barthes yang lain yang banyak sorotan adalah Mythotologies-,Mitodologi (1957), Critical Essays (1964; Elements of Semiology (1964), dalam
bidang lain: Cristicism and Truth
(1966), The Fashion System
(1967)[19]
2.
Konsep Semiotik Roland Barthes
Roland Barthes dikenal sebagai salah satu
seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikan model linguistik dan
Semiologi Saussuarean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra perancis yang
ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotik pada studi sastra. Barthes
(2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam
strukturalisme tahun 1960-an dan 70-an.[20]
Salah satu area penting yang dirambah Barthes
dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun sifat asli tanda, mermbutuhkan
keaktifan pembaca agar dapat berfungsi.
Signifier
(Penanda)
|
Signified
(Petanda)
|
|
Cenotative Signifier
(Penanda Konotatif)
|
Connotative
Signified
(Petanda
Konotatif)
|
|
Connotative
Sign (Tanda Konotatif)
|
||
Gambar Peta Tanda Roland Bathes[21]
Dari peta Barthes diatas terlihat bahwa tanda
denotative terdiri atas penanda dan petanda akan tetapi pada saat bersamaan,
penanda denotatif adalah juga petanda konotatif, dengan kata lain, hal tersebut
adalah unsut material: hanya jika anda mengenal tanda “singa” barulah konotasi
seperti harga diri, kegarangan dan keberanian menjadi mungkin.
Jadi dalam konsep Barthes, tanda konotatif
tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda
denotatif yang mengandung keberadaanya. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes
yang sangat berarti bagi penyempurna semiologi Saussure, yang berhenti pada penandaan
dalam tataran denotatf.[22]
[1]
Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani, di terjemah oleh Drs. Samsul Munir
Amin, MA. Makhrozi, Kiat Sukses Berdakwah,(Amzah,
2006), h, xii, 2006.
[2]
Al Qur’an dan Terjemah Departemen Agama,(
Semarang: CV. Asy-Syfa, 2001), h,
936-937
[3]
Ibid, h, 953.
[5]
http://rumahdesakoe.blogspot.com/2011/02/pengertian-tari-seni-tari-sendratari.html,
4 november 2013, pukul 22:33
[7]
Bakdi Soemanto, Jagat Teater,
(Yogyakarta: Media Presindo, 2001), h, 3-4.
[10]
Waridi, penelitian dan kekaryaan seni di
perguruan tinggi seni : antara konsep dan metodologi, (Bandung: Jurnal
Panggung, vol. 18 No. 03, 2008), h, 243.
[12]
Ibid, hal 23
[13]
Dyah Komala Laksmiwati, Putri Ong Tin Nio,(Yogyakarta,
2013), h, 23.
[14]
Titi Surti Nastiti, Ekadjati Edi S. Pustaka Negara Kretabhumi I Sargah – 4,1695
M, (Bandung: Yayasan Pembangunan Jawa Barat,1993) , h, 199-223
[15]
Ajta. Carita Purwaka Caruban Nagari,(Bandung: Proyek Pengembangan
Permuseuman,1986), h, 176-177.
[16]
Ibid, h, 40-41, 99,147
[17]
Dyah Komala Laksmiwati, Putri Ong Tin Nio,(Yogyakarta:
2013), h, 62.
[18]
Alex Sobur, Siometika Komunikasi,
(Bandung: Remaja Posdakarya, 2003), h, 12.
[19]
Ibid, h, 65.
[21]
Ibid, h, 69
[22]Ibid, h, 63 – 69.
Komentar
Posting Komentar